Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Monday, 4 July 2016

Di Batas Rasa

Kala itu hujan deras menerpa.
Aku melihatnya berlari, berusaha mencapai pedestrian yang paling dekat dengan kanopi pertokoan sekitar.
Berusaha menghindarkan diri dari air yang jelas membuatnya basah kuyup.
Aku menunggu di sudut kedai kopi, tepat di samping jendela dan melihat semua kejadian itu.

Suara lonceng angin berderu lembut tergerak oleh pintu yang terbuka.
Dia masuk.
Sekilas kepalanya menengok kesana kemari mencari sesuatu.
Sejenak mata kami bertemu, sebuah senyum langsung mengembang di wajahnya.

Dengan sedikit berlari dia menghampiri.
Sambil sedikit demi sedikit menepuk kaus yang dipakainya.
Menyingkirkan tetesan air sebanyak yang ia bisa meski aku berpikir sedikit percuma.

"Aku kira kau tak akan berada disini sebelum aku datang. Dan kukira kau tak akan mau ke kedai kopi karena aku tau kau tak suka kopi"

Aku balas senyum. "Tak suka kopi bukan berarti aku tak boleh ke kedai kopi bukan?"
Dia tertawa. Suaranya tidak terbahak kencang. Pelan tapi lembut. Terdengar renyah di telingaku.

"Kau yakin kekasihmu tak akan marah mengetahui kita bertemu disini?"

"Kau sudah mengenal kami cukup lama. Tak usah khawatirkan hal itu"

"Ini, undangan yang sebelumnya kukatakan. Untukmu"

"Waw. Kau akan menikah? Kukira itu bukan kau"

Dua nama tertera. Bersanding dalam untaian tinta berwarna emas. Salah satunya adalah namanya, nama orang yang tepat ada di hadapanku.

Entah mengapa rasanya sesak.
Ada sedikit rasa cemburu. Bukan karena dia menikah lebih cepat dariku, tapi karena dia telah bersama yang lain. Aku tahu bukanlah hak ku merasakan hal itu, tapi tetap saja kurasakan dan tidak bisa kutepis begitu saja.

Ingatanku seketika kembali pada kenangan 2 tahun yang lalu.
Tepat di hari saat dia mengatakan ini.

"Aku mencintaimu. Tapi kau sudah dengan yang lain, yang tidak lain kawanku. Dan aku terlambat merasakan ini. Tapi aku tak akan merebutmu darinya, kita tetap bisa berteman bukan?"

Lalu ingatanku kembali ke enam bulan lalu, ketika aku tanpa sengaja menanyakan perasaannya.

"Perasaanku tak berubah. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Kalaupun kita berjodoh, aku tak mau dengan keadaan merebutmu dari orang lain. Karena aku ingin kau datang padaku dengan kesadaranmu sendiri bahwa memang benar kau juga mencintaiku. "

Sepertinya aku egois, merasa bahagia mendengar hal itu tetapi tak bisa membalas.

Sekarang tepat di hadapanku, dia sudah memiliki pilihan.

"Kita tetap berteman kan?"

Aku mengangguk.

" Kau hebat. Temanku yang terhebat. " kataku

Rasa sesak ini tak berhak aku rasakan.
Tapi juga sulit untuk aku enyahkan. Seseorang berkata itu pertanda aku memiliki rasa kepadanya. Sedikit. Meski hanya sedikit.

Lalu akhirnya aku sadar, kenapa aku bergumul dengan rasa sesak ketika tahu bahwa dia menemukan kebahagiaannya? Bukankah seharusnya aku bahagia untuknya? Karena aku telah memiliki orang lain yang menjadi kebahagiaanku sendiri.

Hari itu menjadi awal aku mencicipi rasa kopi lagi. Pahit. Tetapi kehangatan yang ada di cangkirnya membuatku tenang.
Persis seperti apa yang aku rasakan.

Di Batas Rasa

Kala itu hujan deras menerpa.
Aku melihatnya berlari, berusaha mencapai pedestrian yang paling dekat dengan kanopi pertokoan sekitar.
Berusaha menghindarkan diri dari air yang jelas membuatnya basah kuyup.
Aku menunggu di sudut kedai kopi, tepat di samping jendela dan melihat semua kejadian itu.

Suara lonceng angin berderu lembut tergerak oleh pintu yang terbuka.
Dia masuk.
Sekilas kepalanya menengok kesana kemari mencari sesuatu.
Sejenak mata kami bertemu, sebuah senyum langsung mengembang di wajahnya.

Dengan sedikit berlari dia menghampiri.
Sambil sedikit demi sedikit menepuk kaus yang dipakainya.
Menyingkirkan tetesan air sebanyak yang ia bisa meski aku berpikir sedikit percuma.

"Aku kira kau tak akan berada disini sebelum aku datang. Dan kukira kau tak akan mau ke kedai kopi karena aku tau kau tak suka kopi"

Aku balas senyum. "Tak suka kopi bukan berarti aku tak boleh ke kedai kopi bukan?"
Dia tertawa. Suaranya tidak terbahak kencang. Pelan tapi lembut. Terdengar renyah di telingaku.

"Kau yakin kekasihmu tak akan marah mengetahui kita bertemu disini?"

"Kau sudah mengenal kami cukup lama. Tak usah khawatirkan hal itu"

"Ini, undangan yang sebelumnya kukatakan. Untukmu"

"Waw. Kau akan menikah? Kukira itu bukan kau"

Dua nama tertera. Bersanding dalam untaian tinta berwarna emas. Salah satunya adalah namanya, nama orang yang tepat ada di hadapanku.

Entah mengapa rasanya sesak.
Ada sedikit rasa cemburu. Bukan karena dia menikah lebih cepat dariku, tapi karena dia telah bersama yang lain. Aku tahu bukanlah hak ku merasakan hal itu, tapi tetap saja kurasakan dan tidak bisa kutepis begitu saja.

Ingatanku seketika kembali pada kenangan 2 tahun yang lalu.
Tepat di hari saat dia mengatakan ini.

"Aku mencintaimu. Tapi kau sudah dengan yang lain, yang tidak lain kawanku. Dan aku terlambat merasakan ini. Tapi aku tak akan merebutmu darinya, kita tetap bisa berteman bukan?"

Lalu ingatanku kembali ke enam bulan lalu, ketika aku tanpa sengaja menanyakan perasaannya.

"Perasaanku tak berubah. Aku tak bisa melupakanmu begitu saja. Kalaupun kita berjodoh, aku tak mau dengan keadaan merebutmu dari orang lain. Karena aku ingin kau datang padaku dengan kesadaranmu sendiri bahwa memang benar kau juga mencintaiku. "

Sepertinya aku egois, merasa bahagia mendengar hal itu tetapi tak bisa membalas.

Sekarang tepat di hadapanku, dia sudah memiliki pilihan.

"Kita tetap berteman kan?"

Aku mengangguk.

" Kau hebat. Temanku yang terhebat. " kataku

Rasa sesak ini tak berhak aku rasakan.
Tapi juga sulit untuk aku enyahkan. Seseorang berkata itu pertanda aku memiliki rasa kepadanya. Sedikit. Meski hanya sedikit.

Lalu akhirnya aku sadar, kenapa aku bergumul dengan rasa sesak ketika tahu bahwa dia menemukan kebahagiaannya? Bukankah seharusnya aku bahagia untuknya? Karena aku telah memiliki orang lain yang menjadi kebahagiaanku sendiri.

Hari itu menjadi awal aku mencicipi rasa kopi lagi. Pahit. Tetapi kehangatan yang ada di cangkirnya membuatku tenang.
Persis seperti apa yang aku rasakan.

Thursday, 17 October 2013

Rio dan Lulu : Diambang Kesedihan

Kesedihan itu begitu menyesakkan bagi Lulu. Ketika semua bayangan masa lalunya semakin terlihat jelas di pelupuk mata, padahal semua itu mengundang luka hati dari sebuah jiwa. Jiwa yang rapuh. Jiwa yang membutuhkan uluran tangan dan ketulusan. Jiwa yang mengharapkan kebahagiaan yang utuh. Seperti itulaj jiwa Lulu saat itu. Lulu masih memeluk kedua kakinya sambil menenggelamkan kepala dalam pangkuan kaki yang dipeluknya sejak tadi. Air mata membasahi celana yang dipakai Lulu. Lulu tak berpindah dari tempat itu, masih di sudut ruangan sendirian.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari. Semakin lama semakin jelas terdengar. Langkah kaki Rio menuju Lulu. Begitu tiba di ruangan tempat Lulu berada, Rio merasa lemas seketika. Lulu yang biasanya selalu ceria, selalu menyemangatinya, kini berada dalam keadaan yang benar-benar terbalik dari itu semua. Seolah awan hitam yang kelam nan pekat menggambarkan aura yang muncul ketika Rio melihat Lulu. Mata Rio terasa panas. Dan setitik air mata akhirnya menetes juga.
"Lulu !!!" panggil Rio dari dekat pintu. Kakinya perlahan melangkah menuju Lulu. Lulu bergeming. Tak ada sedikit pun respon dari Lulu. Lulu masih terisak, dalam tangis yang terdengar begitu pilu bagi Rio. Melihat Lulu seperti itu, Rio mempercepat langkahnya menuju Lulu. Ketika sampai di depan Lulu, diraihnya tangan Lulu. Dingin. Seperti es. Rio terkejut bukan main. Ada yang salah dengan wanita di depannya. Merasa ada seseorang menggenggam tangannya, Lulu mendongakkan kepala, memastikan siapa orang yang memegang tangannya begitu erat dan penuh gemetar. Lulu bisa merasakan getar ketakutan di tangannya. "Rio..," kata Lulu pelan. Ada rasa bahagia yang menyeruak di hatinya. Rio ada di depannya, menggenggam erat tangannya di saat dia merasa sedih bukan main. Sedikit senyum tersungging di bibir mungilnya. "Lulu, kenapa?" tanya Rio sambil menahan tangis. Air mata Lulu makin tak tertahankan dan terus mengalir. Kedua tangan Lulu menggengham erat tangan Rio. "Kumohon jangan pernah pergi," kata Lulu lalu menunduk, memohon dengan sungguh-sungguh. Rio pun makin erat menggenggam tangan Lulu. "Tidak akan pernah, sesuatu yang tak akan pernah kulakukan," kata Rio berusaha menenangkan sambil menatap Lulu yang juga menatapnya. Tatapan hangat Rio membuat Lulu tersenyum meski matanya masih berurai air mata. "Kumohon," pinta Lulu. "Aku janji," kata Rio. "Kau pasti ingat itu lagi?" tanya Rio kemudian. Lulu mengangguk pelan. Maksud Rio adalah masa lalu Lulu. Masa lalu Lulu ketika cerita berujar tentang Lulu dan laki-laki di masa lalunya. "Aku tak akan pernah melakukan hal yang sama dengan dia. Aku bukan dia dan aku berbeda dari dia, yang tega melukaimu begitu saja dan memberimu trauma seberat ini. Aku tak kan pernah tega," kata Rio tegas. Kata-kata itu meluncur sesuai dengan apa yang hati Rio katakan. Lulu mengangguk pelan sambil berusaha tersenyum. "Percayalah padaku," kata Rio sambil mengusap air mata Lulu. Tiba-tiba Lulu memeluknya. Erat dan hangat. "Jangan pernah tinggalkan aku," kata Lulu.

Monday, 14 October 2013

Noro



Aku tak ingat namanya. Yang aku tahu dulu dia memang selalu ada di sekitarku. Aku tak keberatan untuk merawatnya dan semakin lama aku semakin menyayanginya. Suatu hari ia menghilang. Biasanya saat aku membuat boneka, ia tertidur pulas di sampingku. Bola bergambar sakura itu kini hanya diam membisu. Sang pemilik yang biasa memainkan bola itu lenyap entah kemana. Aku mulai merasakan keanehan. Entah mengapa dan entah sejak kapan aku menutup dahiku dengan kain. Yah, maksudku dengan ikat kepala. Sepertinya memang ada sesuatu yang aku lupakan. Atau memang sengaja agar aku lupa. Aku benar-benar tak ingat. Rasa penasaranku semakin besar. Kutinggalkan boneka yang sedang kubuat lalu melangkah menuju jendela. Saat jendela itu kubuka, segarnya angin sore itu memberiku ketenangan. 

Adikku telah usai menyiapkan makan malam dan aku diminta untuk segera makan. Tanpa pikir panjang aku ikuti kemauan adikku. Aku makan. Namun seperti tak ada rasanya. Rasa penasaranku saat ini adalah yang terbesar hingga mampu mengalahkan lezatnya masakan adikku sendiri. 

Malam pun datang dan dahiku bereaksi. Sebuah reaksi yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Kepalaku seperti tertusuk oleh sebilah pisau yang menancap. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Mungkin karena pikiran kacauku, pikirku. Namun ternyata bukan. Ikat kepalaku terlepas dan sebuah sinar memancar dari dahiku. Sakit itu perlahan hilang. Namun sinar itu meledakkan dan menghancurkan banyak barang termasuk boneka kayu yang sedang aku pahat. Tiba-tiba kepalaku terasa sakit lagi, sangat sakit. Mataku semakin terpejam menahan nyeri. Dan bayangan terlihat jelas. Bayangan dari sesuatu yang aku lupakan. 

Aku ingat, malam itu seharusnya aku mati. Aku dan ayahku sudah dibunuh oleh orang yang berusaha mengambil keuntungan dari boneka kayu ini. Tubuhku bersimbah darah, begitu juga ayah yang tubuhnya terkulai telah tak bernyawa. Yang kuingat itu adalah adikku. Aku harap aku tak mati saat itu agar aku bisa melindungi adikku. Namun nyatanya aku mati. Lalu seekor kucing kecil berwarna orange (red tabby) menghampiri jasadku yang telah mati. 

Tiba-tiba ia berubah menjadi seorang anak laki-laki. Di tangannya ada segenggam bunga sakura kemudian ia taburkan di atas tubuhku. Seketika tubuhku bangkit dan aku hidup kembali. Anak kecil itu tersenyum lalu menyentuh keningku. Sejak itu aku lupa tentang kematianku dan ayahku. Dan sejak itu pula kucing, yah, anak, roh kucing mungkin, tak pernah muncul kembali. Bayangan semua kejadian itu menghilang dan aku sadar akan satu hal. Di dahiku, telah tertanam mata iblis kucing legenda yang mampu menghancurkan apapun. Dan pada akhirnya aku ingat bahwa kucing itu adalah kucing yang dahulu biasa menemaniku setiap hari. 

Aku ingat. Aku memberi dia nama Noro. Dan kekuatan inilah yang ia berikan padaku dengan mengorbankan hidupnya sebagai roh kucing. Itulah sebabnya aku tak pernah lagi melihat Noro.




Fanfic Hakkenden

Jawaban

"Apa yang membuat aku dan dia begitu cocok? Aku masih belum bisa membayangkannya," bisikku sambil mengirim pesan kepada sahabatku, Feri. Aku masih ragu, apakah aku memang menutupi perasaanku yang sesungguhnya atau memang semua ini yang kuinginkan? Robi akan tiba dari luar kota 3 hari lagi dan dia akan menemui ayahku, katanya dia akan melamarku. 

Aku senang sekaligus bingung. 

Entah ada apa, namun hatiku justru berat menerima kabar itu. Apa benar ini semua yang kuinginkan? Feri terus mengirimiku pesan untuk mempertimbangkan Arjuna. Arjuna ya? Dia sahabatku. Tapi entah mengapa juga aku merasa dia lebih dari sahabat. Di saat seperti inilah aku harus memilih dan mengambil keputusan dengan tegas. 

Arjuna dan Robi. 

Ibarat seseorang yang mendaki gunung, akankah pendaki itu memilih orang yang tengah berada di puncak atau pendaki itu memilih orang yang selama ini menemaninya kapanpun pendaki itu butuhkan, yang selalu siap dan ada untuk pendaki itu? 

Aku masih gamang. 

Namun dari pengibaratan itu aku mendapat jawaban yang sangat jelas. Kurebahkan tubuh di atas tempat tidur lalu menghela nafas panjang. Ya, tekadku sudah bulat. 

Aku memilihnya, Arjuna. 

"Ruangan ini menjadi saksinya," gumamku pada diri sendiri. Kupejamkan mata kemudian, jelaslah tergambar wajah Arjuna denan senyum cerah menghiasinya. Dan aku pun tertidur lelap.

Sunday, 15 September 2013

Cerita Favorit di Hakkenden : Aku Sayang Ibu



Okeeee, berhubung inti cerita Hakkenden sudah saya sampaikan di tulisan saya sebelumnya, sekarang saya tulis nih, spesial, cerita favorit saya di season 2 episode 8. Intinya tentang kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Di daerah Iikura, ada seorang anak yang menghilang. Namanya Akihiko. Satu tahun kemudian, dia kembali ke desa dengan keadaan yang sama pesis seperti sebelum dia menghilang dalam arti fisiknya. Usianya, 12 tahun dan dia adalah siswa kelas 6 SD di Iikura. Namun, ada banyak hal aneh terjadi pada dirinya semenjak dia kembali. Shino diminta Satomi-sama untuk mengetahui apa yang terjadi. Selain itu, ada kemungkinan bahwa dia adalah pemilik manik-manik ke delapan. Shino diminta untuk memastikan hal tersebut. Berangkatlah Shino dan Sousuke ke desa tersebut.

Shino menyamar menjadi anak yang sedang menjalani pengobatan di Iikura. Tidak ada yang curiga apa pun pada Shino saat ia menyamar menjadi anak SD kelas 6 *Lha iya tho, dia kan berusia 18 tahun tapi berbadan 13 tahun -_- *. Kelas 6, kelas yang sama dengan Akihiko. Shino sebangku dengan Shinobu yang merupakan Ketua Kelas. Shinobu cukup banyak membantu Shino untuk beradaptasi di sana..

Pertama kali melihat Akihiko, Shino *dengan kemampuan rohnya* merasakan keanehan dan perbedaan pada anak tersebut, seperti Akihiko itu bukan manusia, namun Shino belum bisa memastikannya. Dari Shinobu, Shino mengetahui bahwa setahun lalu Akihiko menghilang di gunung saat sedang mencari akar bunga lonceng. Buat apa tuh? Ternyata untuk mengobati ibu Akihiko yang sakit-sakitan dan selalu batuk-batuk. Akhirnya, ibu Akihiko pergi ke rumah sakit ibu kota untuk menjalani pengobatan. Akihiko sangat menyayangi ibunya dan ingin ibunya sembuh lalu memutuskan untuk mencari bunga itu. Berkali-kali ia gagal, ibunya tahu akan hal itu. Namun Akihiko tak pernah menyerah. Selain itu, rupanya ibu Akihiko sangat menyukai keindahan bunga lonceng.

Setiap hari, Shinobu-lah yang bertanggung jawab atas Akihiko selama di sekolah. Hal itu bukan tanpa alasan. Akihiko sering bertingkah aneh bila ditinggal sendirian seperti minum air comberan atau tertidur di atap sekolah. Awalnya Shinobu sempat kerepotan dibuatnya, namun dengan sabar Shinobu tetap mendampingi Akihiko *benar-benar Ketua Kelas yang baik yah*. Di tempat lain, Sousuke sedang berbincang dengan neneknya Shinobu. Neneknya Shinobu mengatakan agar Sousuke melarang Shino keluar saat malam. Saat akan mengatakan alasannya, nenek itu membatalkan untuk mengatakannya dan membenarkan perkataan Sousuke, mungkin ada hewan buas. Logis ya? Padahal, nenek Shinobu khawatir Shino akan diculik oleh roh gunung karena konon roh gunung sangat menyukai anak kecil, yang unyu-unyu gitu *aduh bahasanya xD*.

Saat hendak pulang sekolah, Shinobu meninggalkan kelas untuk sesaat sebelum akhirnya kembali untuk pulang bersama Akihiko dan Shino. Di kelas hanya ada Shino dan Akihiko. Shino memandang Akihiko namun pandangan Akihiko tetap pada jendela, oke oke, keluar jendela lebih tepatnya. Shino heran, sejak ia masuk ke kelas hingga saat itu, Akihiko tidak berbicara sepatah kata pun. Dan keanehan pun terjadi, tiba-tiba jendela bersinar dan tampak jelas ada tanaman rambat. Shino sadar itu adalah kekuatan roh. Shino masih belum bisa memastikan apakah Akihiko adalah tubuh yang menjadi wadah bagi roh seperti dirinya atau bukan. Ketika tiba-tiba Shinobu masuk kelas, semua tanaman menghilang dan situasi kembali seperti semula, seperti tak ada apapun yang terjadi.

Dalam perjalanan pulang. Shinobu bercerita mengenai keanehan Akihiko lainnya seperti selalu haus. Yah, dalam konteks yang nggak normal tentunya. Sebelum ke rumah Shinobu, mereka mengantar Akihiko pulang terlebih dahulu, barulah mereka pulang. Selama berada di Iikura, Shino menginap di rumah Shinobu. Hal itu tentunya menjadikan mereka semakin dekat sebagai teman. *Bukan maho ya ! *

Di rumah Akihiko, ayah Akihiko begitu stres. Wajarlah, istrinya lagi sakit nan jauh di ibukota, lha ini anaknya, anak satu-satunya jadi super duper aneh. Nggak pernah ngomong sepatah kata pun, nggak pernah makan sama sekali, cuma minum terus. Ayah Akihiko marah-marah, tapi Akihiko tetap dengan sifat dinginnya.

Keesokan harinya, Shino sekolah lagi. Hal itu sebenarnya sangat menyebalkan bagi Shino. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga lagi melaksanakan misi. Saat sedang naik tangga dengan Shinobu dan Akihiko, tiba-tiba Akihiko yang berada di belakang Shino hampir terjatuh. Dalam waktu yang supercepat itu, Shino melihat dengan jelas di mata Akihiko, bunga lonceng yang dimaksud. Dan entah mengapa, tiba-tiba Akihiko jadi basah kuyup tanpa alasan yang jelas. Saat pulang sekolah pun, sambil menunggu Shinobu, tiba-tiba Akihiko menumbuhkan pohon. Shino yakin, pohon itu adalah roh. Ketika Shinobu datang, pohon itu kembali menghilang. Akihiko terus terbayang oleh kenangan tentang ibunya, betapa ia merindukan ibunya. Masih jelas di benaknya, saat ibunya batuk tanpa henti, tampak tersiksa dan saat berpisah dengan ibunya yang pergi ke rumah sakit ibukota untuk menjalani perawatan medis.

Shino semakin penasaran dengan bunga lonceng itu. Akhirnya usai sekolah, bersama Sousuke dan Shinobu, ia memutuskan untuk mencari bunga lonceng tersebut. Shino begitu tak sabar sehingga tidak mendengar penjelasan Sousuke bahwa saat itu bukanlah saat musim bunga lonceng mekar di gunung. Shino terus berlari mencari bunga lonceng dan akhirnya melihat sebuah sinar yang sangat terang. Shino terus berlari menuju sinar tersebut.

Di rumah sakit ibukota, ibu Akihiko sedang mengemasi barang-barangnya. Ia begitu bahagia karena akhirnya ia bisa sembuh dan diperbolehkan dokter untuk pulang ke kampung halamannya. Itu berarti dia bisa bertemu dengan suaminya dan terutama Akihiko, anak yang sangat dia sayangi. Setelah melewati perjalanan begitu jauh, sampailah ia di rumah. Ayah Akihiko begitu bahagia mengetahui istrinya sembuh. Ia sempat khawatir, namun sang istri meyakinkannya untuk tidak khawatir karena dokter mengatakan istrinya tersebut sudah sembuh. Ibu Akihiko sangat ingin segera menemui anaknya, Akihiko. FYI, sang ibu tidak tahu sama sekali tentang kejadian hilangnya Akihiko selama satu tahun dan kembali dengan kondisi yang nggak berubah sama sekali.

Akihiko sedang duduk termangu di belakang rumah, di teras, memandangi bunga lonceng yang ia tanam dan terus berharap ibunya segera kembali. Dan benar, ibunya kembali. Ibu Akihiko begitu terharu dan bahagia bisa kembali melihat anaknya. Untuk pertama kalinya sejak dia menghilang di gunung, Akihiko berbicara. "I..bu..," katanya terbata-bata. "Ya, ibu pulang," kata ibunya dengan lembut sambil memegang pipi Akihiko. "Apa kau sudah lupa dengan wajah ibumu setelah lama tak bertemu?" tanya sang ibu. "Tidak, tak pernah melupakannya. Tak mungkin aku melupakannya," jawab Akihiko. Lalu Ibu Akihiko memeluk Akihiko. Akihiko membalas pelukan ibunya. "Ibuku..." katanya. Sang ayah, ya ayahnya Akihiko, kaget melihat anaknya tiba-tiba kembali berbicara. Dia merasa bahagia dan merangkul keduanya dalam satu pelukan. Saking bahagianya, ayah Akihiko hingga menangis. Akihiko pun bertanya tentang penyakit ibunya dan ibunya mengatakan,"Aku sudah sembuh semenjak aku bisa melihat wajahmu, Akihiko. Jadi kamu tak perlu mencari bunga lonceng lagi."  Akihiko mengira sang ibu sudah tak menyukai bunga lonceng, namun rupanya tidak sama sekali. Sang ibu tetap menyukai bunga lonceng. Akihiko memeluk ibunya dengan erat sambil tersenyum bahagia.

Di gunung, Shino semakin dekat dengan sinar yang ia tuju, diikuti Sousuke dan Shinobu. Shino tiba-tiba saja terjatuh namun berhasil ditahan oleh Sousuke sehingga Shino tidak jatuh ke jurang. Kemudian, Shino, Sousuke, dan Shinobu, melihat ke dalam jurang. Benar saja, bunga lonceng itu tumbuh subur di dalam jurang tersebut dan bunga-bunga itu rupanya roh. Namun yang lebih mengagetkan lagi, bukan bunga loncengnya melainkan sesuatu lain yang ketiganya lihat di dalam jurang.

Hakkenden episode 8 season 2
Yang rambut kuning, itu Shinobu. Shino ya yang di sebelahnya Shinobu. Sang pemuda satu-satunya di gambar, itu Sousuke, dan yang berambut putih itu Akihiko.

Ibu Akihiko membalas pelukan erat anaknya. Kami sudah menepati janji kami. Suara misterius itu muncul dan rupanya itu adalah suara roh bunga lonceng yang ditanam oleh Akihiko. Tiba-tiba, tubuh Akihiko, yang masih dalam pelukan ibunya, masih memeluk erat ibunya, perlahan berubah menjadi pasir.  Sang ayah sangat kaget melihat anaknya berubah menjadi pasir sepenuhnya. Tangan, kaki, badan, kepala, semuanya berubah menjadi pasir. Sang ibu tetap memeluk Akihiko hingga saat terakhir, hingga tubuh Akihiko seluruhnya berubah menjadi pasir. Hingga akhirnya, ibu Akihiko memeluk pakaian Akihiko saja, Akihiko benar-benar lenyap.

Tampak jelas di depan mata tiga orang tersebut, Shino, Sousuke, dan Shinobu, sebuah tubuh kecil penuh luka, tubuh orang yang sangat jelas mereka kenali, berjaket merah dan dililit tumbuhan dengan posisi telungkup, jasad Akihiko. Kenyataannya, Akihiko telah meninggal sejak setahun yang lalu. Memberikan bunga itu pada ibunya roh bunga lonceng itu berbicara di depan Shino, Sousuke, dan Shinobu. Adalah permintaan anak ini.

Huwaaaaaa T_T.
Demi apa, saya nangis senangis-nangisnya pas nonton episode ini. Daleeemmmm, paling dalem mungkin. Yah, hubungannya sama ibu sih ya, berasa menyentuh gitu. Kalian bingung apa yang terjadi dengan Akihiko dan roh bunga lonceng? Emang nggak diceritain di animenya secara langsung, tapi berdasarkan pengetahuan yang saya dapat setelah nonton Hakkenden dari awal, Akihiko telah mengikat kontrak dengan roh bunga lonceng. Ada dua opsi : menjadi seperti Shino, tetap hidup tapi di tubuhnya ada roh murasame dan menjadi eternal young alias nggak tumbuh, tetap di tubuh anak usia 13 tahun meski sebenarnya sudah 18 tahun atau tubuhnya menjadi wadah roh tetapi begitu tujuannya tercapai, tubuh manusianya tetap ada, wadah tubuh yang hidup dan berkeliaran akan lenyap, bukan lenyap, berubah menjadi pasir dan tetap mati seperti yang terjadi pada Akihiko.

Hokeh, sekian tulisan saya tentang episode favorit di Hakkenden. Semoga bermanfaat dan silahkan ambil hikmahnya.