Waktu. Semua terjadi atas kehendak Sang Pencipta. Dan kita berputar. Menunggu waktu yang dikehendaki Sang Pemilik Kehendak. Kalau urutan isinya terasa random dan berantakan, ya tak apalah. Karena menulis bagi saya adalah salah satu terapi untuk memastikan pikiran saya tetap waras. Jadi mohon maaf ya, kualitas tulisan saya disini bisa dikatakan sangat biasa atau bahkan sangat menurun dibanding dahulu saat saya aktif menulis.
Di blog ini ketika saya buka lagi hari ini, yang entah sudah berapa lama saya tinggalkan, saya menyadari jejak yang saya tinggalkan untuk mengenal diri saya sendiri ternyata sangat banyak. Kepindahan saya ke Bandung sejujurnya membuat saya merasa lemah dan merasa kehilangan diri saya sendiri sampai saya tidak bisa mengenali diri saya sendiri. Siapa Rachmi?
Lalu saya mencoba menuliskan nama saya dalam mesin pencarian google. Rupanya selama ini cukup banyak orang mengutip tulisan saya, menyertakan sumber tulisannya pula. Pantas saja ketika kembali membuka blog ini statistiknya sangat tinggi bagi saya. Saya membaca jejak-jejak yang saya temukan dari mesin pencarian. Bagaimana orang menulis tentang saya dalam sudut pandang positif, bagaimana dahulu saya sangat mencintai dunia menulis sehingga segalanya bisa saya tuliskan dengan mudah. Sampai akhirnya di satu titik saya merasa mulai menemukan diri saya sendiri. Ya, Rachmi adalah manusia yang suka menulis, terlepas dari apakah isinya bagus atau tidak, bermanfaat atau tidak, dia tidak berpikir banyak hal. Pokoknya nulis. Tulis saja. Apapun itu.
Ada satu jejak yang sebenarnya mengingatkan pada luka. Tetapi hari ini, entah bagaimana saya tidak terpengaruh oleh luka tersebut, tetapi menganggap luka tersebut adalah salah satu bagian diri saya yang saya sembuhkan. Bahkan di blog ini saya menuliskan namanya dengan sangat jelas. Rasanya entahlah seperti "Oh, ternyata saya dahulu seperti ini ya." Tidak ada amarah apalagi dendam tetapi merasa tidak menyangka ternyata saya bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup saya waktu itu.
Hampir 3 tahun saya terpenjara dalam sebuah luka. Tetapi saya sendiri baru menyadari bahwa luka itu kini telah sembuh, hanya meninggalkan bekas sebagai pengingat saja, tanpa rasa sakit dan tanpa amarah. Mengapa? Karena tanpa sadar, saya lebih banyak fokus pada diri saya sendiri, fokus membangun diri saya sendiri. Bagaimana bisa? Karena dorongan dari orang-orang di sekitar saya.
Achiw, sahabat yang sudah benar-benar saya anggap kakak sendiri mengatakan, saya sudah berada di level yang tepat, menyadari bahwa luka lama itu sudah sembuh dan bisa mengambil sikap dengan baik.
A Rangga, sahabat yang selalu menjadi penasihat yang bijak mengatakan, saya bisa menjadi seperti ini 60% nya adalah efek dari perhatian dan kasih sayang Teguh. Sikap yang Teguh ambil mendorong saya untuk memaafkan diri saya sendiri, memaafkan segala masa lalu yang telah terjadi, memaafkan orang-orang yang ada disana, dan memaafkan segala keadaan yang telah berlalu.
Pada titik ini saya merasa berhasil melepaskan salah satu beban hidup saya : Penjara waktu.
Saat saya merasa luka yang ada ini membuat saya menjadi penuh amarah dan rasa kesal, di situlah sebenarnya saya terpenjara oleh waktu. Terpenjara oleh suatu beban yang membuat saya dikuasai amarah masa lalu padahal langkah saya dan segala kehidupan saya sedang menuju masa depan. Bukankah itu artinya saya terpenjara pada masa lalu? Begitu kan?
Akhirnya juga saya menyadari, setiap luka ada obatnya, akan ada akhirnya dimana luka itu tidak mempengaruhi diri kita lagi. Jika obatnya begitu lama untuk bereaksi setelah kita mencari pertolongan, mungkin obat yang kita perlukan adalah kebebasan dari dalam diri kita sendiri. Sebuah kebebasan dengan melepas penjara waktu yang selama ini membelenggu.
Showing posts with label pendapat. Show all posts
Showing posts with label pendapat. Show all posts
Saturday, 23 November 2019
Saturday, 28 September 2013
Menulis Itu Sehat. So? Menulislah :)
Menulis. Siapa sih yang asing sama kegiatan yang satu ini? Yah, menulis. Apapun. Semua orang tahu. Tapi, yang akan saya tulis disini adalah tentang manfaat menulis. Secara garis besar, kurang lebih seperti itu.
Berawal dari kekesalan mas pacar sama seseorang yang berkaitan dengan orang bebal *postingan saya mengenai orang bebal ada kok. Ubek aja xD *. Baru kali ini saya liat dia benar-benar emosi, lebih parah daripada saat kita berdua bertengkar. Parah kan? Yah, itu kan gara-gara orang bebal gitu. Terus aja dia cerita tentang kekesalannya sama orang bebal, berulang-ulang, buka artikel tentang orang bebal, baca satu-satu sambil bilang "tuh kan bener, dia bener-bener orang bebal!!!" Agak pusing juga saya. Beberapa saat saya lihat ke layar laptop yang sedang dia tongkrongin, ternyata dia sedang menulis. Hey, sejak kapan mas pacar ini doyan nulis? Seinget saya sih enggak. Diingt-inget lagi, barulah saya ingat bahwa dia pernah beberapa kali tag catatan di fb hasil tulisannya sendiri. Dan saya ingat juga, tulisan-tulisan dia adalah buah karya dari emosi meledak-ledak yang dia rasakan, tapi yang ini jauh lebih parah.
Akhirnya saya sarankan dia untuk membuat blog. Siapa tahu ada yang baca? Siapa tahu tulisannya bermanfaat buat orang lain? Dia pun setuju. Saya buatkan deh blog buat dia. Boleh diliat di nekozawajunichi.blogspot.com
Dari situlah saya dapat inspirasi untuk membuat postingan ini. Yang saya ditulis disini tentu berdasarkan pengalaman ya, bukan hasil riset ala dosen. Oke, mulai !!!
Menulis bisa membuat emosi yang labil menjadi stabil
Contohnya? Ya itu, si mas pacar. Emosi yang berlebihan dan sulit terkontrol menyebabkan seseorang cenderung melakukan sesuatu. Salah satunya yang terjadi pada mas pacar yaitu terus menerus bercerita tentang kekesalannya. Beruntunglah dia sadar kalau saya terus mendengar kekesalan dia, malah jadi saya yang kesal sama dia. Akhirnya dia menulis. Dia menuliskan semua yang dia rasakan dengan bebas. Masalah benar dan salah penulisan, itu bisa belakangan.
Kan bisa diedit. Yang penting menulis dulu supaya semua kekesalan tercurahkan ke arah yang positif.
Kan bisa diedit. Yang penting menulis dulu supaya semua kekesalan tercurahkan ke arah yang positif.
Dengan menulis, kita punya teman dadakan yang paling pengertian
Kalimatnya konyol? Emang. Tapi itu bener. Ketika kita nggak punya teman curhat yang benar-benar mendengarkan kita, kita bisa menulis. Menulislah, tak akan ada yang memotong pembicaraan, tak akan ada menampakkan wajah lesu ketika kita berbicara (kan kalo udah kelamaan ngobrol curhatan, yang dengerin biasanya pasang tampang gitu). Memang belum tentu memberi solusi, tapi bisa menggiring kita pada solusi. Kita bahas di poin selanjutnya.
Menulis bisa menggiring kita ke solusi masalah
Kalo udah nulis, biasanya suka dibaca lagi kan? Diedit dulu gitu? Nah, itulah kesempatan untuk menganalisis masalah yang kita hadapi dan bisa kita perkirakan solusi apa yang terbaik dari apa yang sedang kita hadapi.
Menulis itu berbagi ilmu dan pengalaman
Yang ini cukup jelas. Saya yakin kalian sebagai pembaca pun akan setuju dengan pernyataan saya yang satu ini. Karena tulisan memiliki informasi dan setiap orang yang baca menjadi tahu. Syukur-syukur kalo yang baca juga paham.
Makanya, saya bilang, menulis itu sehat. Kenapa? Kalau kita emosi terus dipendam, nggak menutup kemungkinan hal itu jadi sumber penyakit buat kita baik secara mental maupun secara fisik. So? Tunggu apalagi? Ayo nulis!
Subscribe to:
Posts (Atom)