Saturday, 23 November 2019
Melepas Penjara Waktu
Di blog ini ketika saya buka lagi hari ini, yang entah sudah berapa lama saya tinggalkan, saya menyadari jejak yang saya tinggalkan untuk mengenal diri saya sendiri ternyata sangat banyak. Kepindahan saya ke Bandung sejujurnya membuat saya merasa lemah dan merasa kehilangan diri saya sendiri sampai saya tidak bisa mengenali diri saya sendiri. Siapa Rachmi?
Lalu saya mencoba menuliskan nama saya dalam mesin pencarian google. Rupanya selama ini cukup banyak orang mengutip tulisan saya, menyertakan sumber tulisannya pula. Pantas saja ketika kembali membuka blog ini statistiknya sangat tinggi bagi saya. Saya membaca jejak-jejak yang saya temukan dari mesin pencarian. Bagaimana orang menulis tentang saya dalam sudut pandang positif, bagaimana dahulu saya sangat mencintai dunia menulis sehingga segalanya bisa saya tuliskan dengan mudah. Sampai akhirnya di satu titik saya merasa mulai menemukan diri saya sendiri. Ya, Rachmi adalah manusia yang suka menulis, terlepas dari apakah isinya bagus atau tidak, bermanfaat atau tidak, dia tidak berpikir banyak hal. Pokoknya nulis. Tulis saja. Apapun itu.
Ada satu jejak yang sebenarnya mengingatkan pada luka. Tetapi hari ini, entah bagaimana saya tidak terpengaruh oleh luka tersebut, tetapi menganggap luka tersebut adalah salah satu bagian diri saya yang saya sembuhkan. Bahkan di blog ini saya menuliskan namanya dengan sangat jelas. Rasanya entahlah seperti "Oh, ternyata saya dahulu seperti ini ya." Tidak ada amarah apalagi dendam tetapi merasa tidak menyangka ternyata saya bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup saya waktu itu.
Hampir 3 tahun saya terpenjara dalam sebuah luka. Tetapi saya sendiri baru menyadari bahwa luka itu kini telah sembuh, hanya meninggalkan bekas sebagai pengingat saja, tanpa rasa sakit dan tanpa amarah. Mengapa? Karena tanpa sadar, saya lebih banyak fokus pada diri saya sendiri, fokus membangun diri saya sendiri. Bagaimana bisa? Karena dorongan dari orang-orang di sekitar saya.
Achiw, sahabat yang sudah benar-benar saya anggap kakak sendiri mengatakan, saya sudah berada di level yang tepat, menyadari bahwa luka lama itu sudah sembuh dan bisa mengambil sikap dengan baik.
A Rangga, sahabat yang selalu menjadi penasihat yang bijak mengatakan, saya bisa menjadi seperti ini 60% nya adalah efek dari perhatian dan kasih sayang Teguh. Sikap yang Teguh ambil mendorong saya untuk memaafkan diri saya sendiri, memaafkan segala masa lalu yang telah terjadi, memaafkan orang-orang yang ada disana, dan memaafkan segala keadaan yang telah berlalu.
Pada titik ini saya merasa berhasil melepaskan salah satu beban hidup saya : Penjara waktu.
Saat saya merasa luka yang ada ini membuat saya menjadi penuh amarah dan rasa kesal, di situlah sebenarnya saya terpenjara oleh waktu. Terpenjara oleh suatu beban yang membuat saya dikuasai amarah masa lalu padahal langkah saya dan segala kehidupan saya sedang menuju masa depan. Bukankah itu artinya saya terpenjara pada masa lalu? Begitu kan?
Akhirnya juga saya menyadari, setiap luka ada obatnya, akan ada akhirnya dimana luka itu tidak mempengaruhi diri kita lagi. Jika obatnya begitu lama untuk bereaksi setelah kita mencari pertolongan, mungkin obat yang kita perlukan adalah kebebasan dari dalam diri kita sendiri. Sebuah kebebasan dengan melepas penjara waktu yang selama ini membelenggu.
Monday, 4 July 2016
Now We Have Different Way
Well, ini postingan isinya murni curhatan saya tentang kejadian kemarin. Meskipun saya akui ini pahit, but it's better rather than nggak bilang apapun dan pergi tanpa alasan
===========================
Saya dan Mas Jun udah lama ada di komunitas yang sama, bahkan termasuk pendiri dari komunitas tersebut. Sudah hampir 4 tahun komunitas itu ada dan entah sudah berapa kali juga saya keluar masuk komunitas itu.
Tapi kali ini saya merasa mantap untuk keluar dari komunitas tersebut. Dan perlahan melepaskan salah satu hobi ini karena semakin lama secara pribadi saya semakin tidak merasakan manfaatnya. Menuangkan kreatifitas itu penting, saya sangat memahami hal tersebut. Tetapi dengan keadaan saya sekarang membuat saya merasakan cara lain menuangkan kreatifitas tersebut dengan nyaman.
Di samping itu, saya juga lelah dengan drama-drama yang terjadi. Okelah katanya sekedar tahu, itu pun bagi para petinggi. Masalahnya, saya sudah nggak mau tau. Dari yang sudah-sudah selalu saja dari seseorang yang sama atau dengan tipe masalah yang sama.
Saya bahkan sudah tidak merasakan unsur fun dan enjoy berada di dalamnya. Seperti nyawa saya sudah tidak ada di sana. Bahkan kerap kali ketika pulang kumpulan, bukannya refresh saya jadi malah ngomongin masalah orang. It's negative side of me not the community. Saya sadar hal itu, maka dari itulah lebih baik saya yang pergi. Selain menambah daftar negative thinking pada suatu hal, kalau nanti saya gak sengaja ngomongin di luar kan komunitas juga yang jelek.
Saya juga punya target-target lain. Nggak jarang juga saya merasa buang-buang waktu banget untuk sekedar kumpulan. Kerap kali juga setiap kumpulan pikiran saya tidak tertuju pada topik yang dipikirkan teman-teman yang lain, tetapi justru kepikiran buku dan jurnal yang pengen dibaca, kepikiran buat ngereview buku, nonton film, diskusi tentang pembelajaran, pengen olahraga, dan termasuk ketika sedang menyusun skripsi.
Kemarin saya coba untuk membicarakan ketidaknyamanan saya ini kepada mas jun, setelah sekitar satu bulan terakhir berusaha memikirkan masak-masak mengenai ketidaknyamanan yang ingin saya bicarakan. Karena ada satu hal yang saya takutkan : respon mas jun dengan kemarahan.
Saya kira, kemarin dia dalam keadaan tenang, netral, dan tentu saja saya berharap dia bersikap netral, memisahkan urusan komunitas dan hubungan kami berdua sehingga tidak menambah ketidaknyamanan yang sudah saya rasakan di komunitas berimbas pada hubungan kami berdua.
Ternyata saya salah. Entah saya yang salah menilai dia atau memang cara saya menyampaikan yang salah sehingga dia tidak paham dan berbalik marah. Ketakutan dan kekhawatiran yang saya jaga secara hati-hati dan berusaha saya antisipasi malah terjadi.
Saya merasa sangat sedih.
Obrolan-obrolan hangat yang sebelumnya membuat kami tersenyum dan tertawa semua menghilang seketika itu juga.
Mas jun tidak terima dengan perasaan saya yang tidak nyaman karena dia merasa dia nyaman-nyaman saja disana dan merasa bahwa komunitas itu telah menjadi keluarganya sendiri.
Tapi saya bukan dia, saya merasakan hal yang berbeda. Saya harap dia bisa menghargai ketidaknyamanan yang saya rasakan, tapi ternyata tidak. Sikap dia tersebut justru membuat saya semakin mantap untuk keluar. Karena ketika terjadi perbedaan pendapat, hubungan kami yang jadi imbasnya, yang jadi korbannya, dan saya yang jadi pelampiasan kemarahan tersebut.
Tentu saja, saya tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup untuk ada dalam keadaan seperti itu.
Akhir-akhir ini seringkali dia membicarakan soal rencana menikah, tapi jika perbedaan pendapat di komunitas menyulut kemarahan dia dan membuat kami bertengkar, tentu saja saya tidak mau.
Saya mengatakan ketidaknyamanan saya bukan berarti meminta dia untuk keluar juga, tidak sama sekali. Saya tetap menghargai pilihan dia untuk tetap berada di sana, menghargai kenyamanan yang dia rasakan, sama sekali tidak memaksa dia untuk keluar juga. Bahkan tidak meminta dia untuk memilih komunitas atau saya. Karena saya mengerti, keberadaan saya dan komunitas sama pentingnya bagi mas jun.
Saya coba mengatakan ini perlahan, sedikit-sedikit saja sudah menyulut kemarahan semengesalkan kemarin, apa jadinya kalau saya tiba-tiba lapor ke ketua saya pengen keluar tanpa memberi tahu dia terlebih dahulu dan membuat dia tidak tahu apa-apa soal ketidaknyamanan yang saya rasakan? Mungkin bisa membuat dia marah berminggu-minggu atau kemungkinan terburuknya putus, seperti yang pernah terjadi sekitar 1 atau 2 tahun silam. Jelas saya tidak mau.
Dia mulai tenang ketika saya mengatakan bahwa mulai detik ini saya tidak akan pernah membicarakan dan membahas soal komunitas ini, saya pun tidak akan mengganggu dia untuk tetap berada di sana. Saya hargai apa yang dia senangi tersebut, hanya saja saya tidak bisa bersama-sama merasakan hal tersebut seperti yang sudah-sudah. Saya sudah memutuskan mengambil jalan lain yang menurut saya disitulah saya ingin berada. Saya harap ketika suatu saat saya memutuskan sesuatu tanpa membicarakan terlebih dahulu kepada dia, dia tidak merespon dengan kemarahan seperti ini. Seperti yang dia katakan sebelumnya "kalau kamu mau ambil keputusan seperti ini, buat apa ngomong ke aku? Mending aku gatau apa-apa. Ngomong langsung sana sama ketua". Padahal dulu saya sempat keluar tanpa memberi tahu dia pun dia tidak kalah marah seperti yang terjadi kemarin. Karena sudah jelas saya coba katakan perlahan saja membuat dia semarah ini.
Sisa-sisa rasa kesal kemarin masih tersisa, sungguh. Terutama respon kemarahan yang saya dapatkan. Tapi semoga saja ini jadi pelajaran bahwa kenyataan itu tidak selamanya manis, ada pula pahit bahkan pada suatu hal yang jelas-jelas kami jalani bersama.
Sunday, 3 July 2016
Kapan mau nulis lagi?
Kalo pikiran saya lagi kena sama pertanyaan itu, rasanya tuh ya, udah punya banyak target malah banyak yang gak bisa saya lakukan secara konsisten.
Yep.
Gak konsisten. Buktinya? Liat aja di blog ini. Tulisannya banyak yang random, waktu postingnya juga super random.
Menulis termasuk kemampuan yang paling banyak membutuhkan energi, menurut saya. Tapi segala ciri bisa dengan mudah ditemukan, bagaimana seseorang berpikir, ketertataan pemikiran, keteraturan alur, bisa terlihat dari tulisannya. Minat yang dimiliki seseorang juga bisa terlihat dari topik-topik yang dipilih.
Entah ini sebagai suatu keberuntungan atau kesialan, saya termasuk orang yang super random dalam menulis, di saat senggang rasanya lebih mudah menulis untuk mencurahkan apa yang saya sukai dan apa yang benar-benar saya pikirkan. Makanya topiknya random. Yang review buku ada, make up ada, tapi saya sendiri gatau sebenernya saya pengen konsisten dimana sih, karena pada dasarnya saya suka menulis hanya untuk kesenangan. Misalnya lagi suka karokean, pasti topiknya karokean. Atau lagi suka sama games terbaru, sudah pasti saya bakal baca seluk beluknya di wikia dan kalo sempet dan lagi mood pasti saya tulis juga review nya.
Pernahkah terbersit keinginan untuk menulis secara konsisten supaya bisa produktif?
Of course saya pengen dong.
Tapi dengan kebiasaan minat random dan mood random ini sepertinya rutinitas saya nya yang harus diperbaiki sebelum bisa fokus pada satu topik tertentu.
Ngomongin soal topik, saya tertarik banget sama topik gender yang fokus sama pedagogik. Jarang loh buku yang bisa ngebahas hal itu. Terbukti waktu saya ngerjain skripsi susah banget cari sumber berbahasa indonesia tentang pendidikan berbasis gender. Padahal seru. Aselik. Jadilah sumbernya kebanyakan full english which means otak saya berproses lebih banyak dibanding baca sumber berbahasa indonesia dan sering banget bikin saya kelaparan gara-gara mikir keras. Rata-rata topik gender ngomongin soal kesetaraan, ya itu betul, arahnya pasti ke sana. But ya, belum ada yg konsen ke arah pendidikan secara mendalam. Kebanyakan ngomongin penindasan terhadap perempuan dan dominasi laki-laki, padahal yang saya pengen tuh justru pendidikan yang berfokus pada kebutuhan gender. Laki-laki dan perempuan jelas tercipta dengan sangat berbeda secara fisik, maka dari itu akan mempengaruhi kebutuhan secara sosialnya juga untuk bisa hidup bermasyarakat. Kebutuhan tersebut salah satunya kan bisa diimplementasikan dalam pendidikan. Nah, saya pengen itu, rinci, jelas, dan aplikatif gitu.
Jadi, kapan mau mulai nulis lagi?
Monday, 30 June 2014
Book Review : Aturlah Uangmu Sebelum Dia Mengaturmu
![]() |
| Ini tampilan covernya. Saya suka. Simple dan menarik. |
![]() |
| Seperti inilah tampilan isi bukunya. Kata-kata "Jangan Tergiur Diskon" ini beneran jleb banget buat saya. |
Sunday, 29 June 2014
New Target Buat My Lovely Blog :D
Monday, 19 May 2014
Ima Ai wo Katarou...(Sekarang, Mari Kita Berbicara Tentang Cinta)
Postingan saya kali ini agak berbeda dari sebelumnya
Di postingan ini saya akan ceritakan sesuatu yang sangat pribadiii >,<
My love life
Malu juga sih sebenernya
Tapi lumayan termotivasi setelah baca postingan Teh Dita yang ini
Ada sedikit keberanianlah buat menceritakan sesuatu yang nggak banyak orang tau
Mudah-mudahan punya saya juga termasuk. Hehehe XD
Tulisan di blog ini adalah repost dari catatan saya di facebook
Bisa cekidot kesini buat liat postingan aslinya
Nggak ada yang saya ubah kok selain opening ini
Saya ingat, waktu saya menulis catatan itu lagi bener-bener full in love
Yah, namanya juga baru jadian
Feelingnya pasti ada sedikit beda lah dibandingkan sekarang yang udah hampir dua tahun dan sama-sama punya kesibukan
Melewati banyak hal dan salah satu yang paling nyebelin adalah bertengkar
Yep, anybody get so tired after a fight, so do us
*Please, kalimat di atas jangan dikasih makna ambigu, buat yang ngerti*
Tapi ada hikmahnya juga
Sahabat terbaik yang pernah saya keceng *dan kadang saya suka masuk angin kalo inget itu /WOY *
Dia bilang gini
Gue, kalo ke orang yang udah jadian lama yang selain elo, pasti nanya "Udah berapa kali lo pada bertengkar?"
Kalo yang nggak ngerti, pasti nyangka gue ini mendoakan mereka segera putus
Iya kalo negative thinking gitu
Tapi kalo gua bilang ke lu, gua yakin lu ngerti apa yang gua maksud
Dan ya, aku ngerti itu. Banget.
Jadi gini. Lu sama cowok lu sama-sama dalam keadaan nggak bisa menyampaikan apa yang sebenernya pengen kalian sampaikan. Terus kependem dan kecampur amarah jadilah bertengkar.Jadi sebenernya bertengkar juga salah satu cara komunikasi meski termasuk cara yang nggak baik.
Paling nggak baik malah.
Lu tau sendiri kan kalo cara terbaik komunikasi ya ngomong baik-baik dan dengerin baik-baik.
Wejangan Mas Afin berhasil memutarbalikkan apa yang saya pikirkan tentang ingin-putus-gamau-putus-pengen-putus-tapi-masih-ragu-dan-takut-sakit-hati-akhirnya-bingung-sendiri
Dari situlah makin kuat keinginan saya untuk bertahan menjalankan hubungan ini
Hidup dan dunia lu tuh kayak shoujou manga (Contoh : Tokyo Mew Mew). Cewek polos yang berharap suatu hari dapet pangeran tampan atau cowok romantis.
Oke, tampan itu relatif karena lu pernah berfikir gua tampan *GA GITU JUGA MAS*
Tapi gua tau, dia bener-bener bikin lu jatuh cinta kayak gini, itu berarti lu berdua gak main-main sama hubungan yang kalian jalanin.
Dan gua yakin kalo misalnya lu berdua kepisah, putus kek, apa kek, pokoknya kepisah dari hubungan ini, lu bakal mati rasa.
Bukannya gua nyumpahin, tapi gua tau lu tipe orang yang sering gagal move on dan susah move on.
Ngerti?
Oke, postingan ini bukanlah postingan tentang wejangan Mas Afin, tapi My Love Life
Wejangan dari Mas Afin ini hanyalah gambaran bahwa sahabat saya yang satu ini adalah pemirsa, pengamat, dan pendengar paling baik kalo saya udah mentok ke siapa harus cerita selain melalui tulisan soalnya sekarang ini saya jadi tipe orang-yang-nggak-berani-cerita-ke-siapa-siapa-tentang-masalah-dalam-love-life. Dari wejangan di atas pula bisa jadi gambaran bagaimana hubungan saya dan Mas Jun berjalan dalam hampir dua tahun terakhir.
Ini dia catatan Love Life yang menjadi topik utama dalam postingan ini!
Check it out!
***
Aku bingung mau kasih judul apa buat tulisan ini
Tapi nggak tahu kenapa juga aku pengen banget nulis ini
Karena aku lagi denger lagunya arashi yang ima ai wo katarou, yaudah, itu aja judulnya. lagian sesuai.
***
Berawal dari cosplay dan rasa kesepian karena yang benar-benar konsisten suka musik jepang Cuma aku sama Afin. Udah kena gosip gembar-gembor sana-sini. Yah emang waktu itu ada perasaan juga sama dia sih. Terlepas dari apa gara-gara suka musik jepang atau enggak, nggak tahu kenapalah jadi suka sama tuh anak. Padahal awalnya Cuma kagum doang gara-gara matematikanya mantep mampus meskipun biologinya jeblok mampus. *sadis*
Pas lagi rapat proyeksi, aku kekeh dengan halus pengen ngangkat yang ada budaya jepangnya. Nggak pol ngebahas musik juga nggak apa-apa yang penting budaya jepang. Muak aku liat korea sana-sini. Akhirnya dikabulkan dan di minggu itu diangkat tema anime.
Belia. Orang yang aku hubungi pertama kali buat diajak jadi model. Dia langsung setuju dan mau ngajak temennya juga yang suka cosplay.
Dari situ kita ketemu.
Pemotretan hari jumat itu, meskipun dengan capek dan lari-lari dari sejak di kelas gara-gara kelas pengayaan telat bubar dan angkot pada ngetem, aku nggak mau ketinggalan buat andil dalam tema yang aku usulkan. Aku liat Belia begitu nyampe di kantor, di deket wc tepatnya lagi dandan. Lagi bareng sama tiga cowok.
Salah satunya kamu.
Yang lagi bedakin tangan biar pucet dan pas liat mukamu emang beneran pucet.
Aku Cuma diem dan mikir. Total banget ya orang-orang ni?
Dengan capek dan gujil keringetan abis dari sekolah, yah, dengan begitu aku ketemu kalian, ketemu kamu.
Singkat cerita pemotretan berlangsung, lancar dan sesuai harapan. Hingga setelah selesai pemotretan aku kebagian tugas wawancara kalian semua. Inget banget ketika ditanya modal berapa buat cosplay, jawaban kamu paling irit secara ekonomi dengan bilang Cuma modal ngubek isi lemari dan dapet kaos polos plus celana jeans soalnya wignya ada yang kasih.
Nggak modal banget sih? Dandan paling tebel tapi Cuma modal gitu doang? Oh yeah?!
Pas pulang dan nganter kalian ke parkiran, aku mintain nomor kontak kalian satu-satu termasuk nama jepang kalian. Dan kamu yang paling semangat jelasin makna nama jepangmu itu. Nekozawa Junichi.
Keren juga nih anak pemikirannya. Yah, setidaknya nggak ngasal bikin namalah~
Satu hal positif menurut aku.
***
Ke toko malem-malem gara-gara disuruh ngekonsep matsuri sama kantor bari teu jadi.
Gujil lagi, pake seragam hari jumat yang warna putih-putih *seragam favoritku karena ukurannya paling pas di badan diantara semua seragam SMA yang aku pake*. Akhirnya aku liat wujud kamu tanpa cosu.
Ih, orang aneh? Masih musim pake kupluk? Ah, sudahlah, emang gitu kali.
Intinya ngobrol panjang lebarlah disitu. Pas mau pulang, sebenernya duitku ilang, mana udah jam 9 malem pula. Sudahlah, aku pulang jalan kaki saja. Lagian nggak terlalu jauh dari rumah. Padahal sempet minta anter pulang ke kamu tapi kamunya ogah. Yaudah.
Eeh, lagi enak-enaknya jalan kaki sambil denger lagu pake headset ada motor berhenti depanku, taunya kamu.
Udah malem dan mulai gerimis. Akhirnya kamu nawarin tumpangan. Yaudah, lagian gerimis.
SCANDAL – Burn
Lagu yang waktu itu aku putar sepanjang perjalanan pulang, Cuma satu lagu itu doang.
***
Beuh, sekolahku penuh sama siswa SMA yang ikut Try Out ITB. Lumayan sih biar tau soal-soalnya kayak gimana dan kali aja ketemu sama temen lama kan jadi ngumpul lagi.
Pusing
Beuh, itu soal minta dibakar kali yah bukannya dikerjain. Akhirnya pake jurus ala babeh agus. Tutup soal dan isi ljk sesuka hati. Alhasil, dalam waktu satu jam aku udah beres ngerjain soal-soal yang minta dibakar itu. Lebih tepatnya ngisi ljk tanpa liat soal.
Beres.
Keluar kelas dan keliling-keliling stan fakultas. Ada yang nepuk dari belakang *nepuk bukan sih? Pokoknya nyahutin*
Kamu
Yang aku lupa namanya, yang aku lupa itu teh siapa, yang aku lupa nih orang kok berani-beraninya. Terus kamu nunjuk-nunjukkin telunjuk kamu ke hidung sambil bilang Jun.
Jun? Yang mana yah?
Cosplay. Yah, kata kunci itu. Aku inget. Oh, Juniar!
Baka !!!
Dianya inget, akunya enggak. Tapi yaudahlah. Akhirnya ke stan SAPPK bareng. Kamu nanya-nanya arsitektur, aku nanya-nanya kabar teh rita yang bagian jaga stan itu. Mulai deh usilnya sama-sama keluar.
Ikan julung-julung
Julukan yang kamu kasih ke aku waktu itu dan aku manggil kamu konstruksi bangunan. Dan disitu penyakit AMQ aku keluar.
Narik-narik jaket orang lain.
Dan itu adalah jaket punyamu, yang restletingnya double. Udah kebiasaan di sekolah doyan banget narik-narik jaket orang. Entah kelainan atau apalah, nggak ke cewek nggak ke cowok. Tapi Cuma pas lagi di AMQ aja. Beberapa saat kemudian tanpa sadar kepisah dua-duanya.
***
Risris sakit, abis operasi. Nggak tahu gimana jadi mau jenguk risris bareng. Emang aku kangen sama risris juga sih. Janjian di fb kamu nyamper abis magrib dan mau nunggu di depan gang. Tau-taunya malah ada di rumah pas aku keluar kamar.
Nih orang berani bener? Baru juga kesini udah ...... *speechless*
Yasudahlah, yang pasti jadi malem itu jenguk risris. Selama jenguk risris, keliatan deh aslinya nih orang kayak gimana. Unik. Itu yang ada di pikiran aku waktu itu.
Jenguk risris yang kedua kalinya pas ada ichot dan ada kamu juga di situ. Nggak tahu kenapa ada perasaan aneh disitu. Aneh banget tapi nggak tahu apa. Ada perasaan nggak rela tapi nggak tahu gara-gara apa.
Pas mau pulang, agak terjadi sedikit percekcokan. Risris yang kekeh biar aku dianter sama kamu buat pulang dan kamu yang pengen buru-buru pulang.
Siapa aku? Ngapain coba aku ke situ? Kenapa aku ngerasa sakit hati? Apa yang bikin aku sakit hati? Apa yang bikin aku nggak tenang? Dan yang pasti...Apa yang bikin aku pengen nangis malam itu?
Aku nggak tahu. Keputusannya aku pulang sendiri, karena emang ya itu, siapa aku gitu, toh itu urusan kalian. Katanya risris pengen dijenguk lagi. Oke aku turutin karena katanya ada yang mau diomongin.
Akhirnya aku pamit pulang disitu. Pas pulang nggak tahu kenapa bener-bener pengen nangis. Aku lari sepanjang jalan. Tadinya mau naik angkot nggak jadi. Emosi aku keluar. Aku lari nyampe rumah, selama lari aku tahan biar nggak nangis. Begitu nyampe depan rumah, diem, baru nangis. Orang rumah pada heran tapi aku langsung masuk kamar dan tidur.
Besok paginya aku langsung ke rs, ke risris sambil kasih risol. Dan kamu tahu apa yang risris bilang waktu itu?
Mi, kamu sama jun cocok. Aku setuju banget kalo kalian jadian, pacaran terus sampe nikah dan punya anak. Punya kehidupan sampe kakek nenek. Sampe maut yang memisahkan kalian!
Nah lho?! Aku heran, bengong, bingung. Apaan nih maksudnya?
Percaya deh sama aku. Suatu hari nanti Jun bakal bener-bener sayang sama kamu! Jauh dibanding waktu dia sayang sama ichot.
Makin nggak ngerti waktu itu sama omongannya risris.
***
Entah karena feeling risris yang kuat atau emang takdir tapi keinginan itu ada sekarang! Dalam diri aku dan aku harap selalu dalam diri kamu juga!
Alay?
Yeah i admit it. LOL. But YOLO...You Only Live Once
See you on next post!
Wednesday, 16 October 2013
Yippiiieeeee !!! Video Clip Avril yang Baru Udah Ada !!! ^_^
Masih nggak tau juga? Oke. Silahkan search di google dulu deh~ atau baca disini. Oke, liat aja pic di bawah ini.
Udah diliat? Udah dibaca? Tau kan yang itu? Anggap saja kalian tau. Maksa? Biarin, orang saya yang nulis kok. *ditabok rame-rame*
So happy today. Akhirnya si teteh avril *huek* ini rilis video clip terbarunya buat lagu Let Me Go. Udah agak lama juga sih nggak update tentang Avril. Baru sekarang-sekarang nih ngikutin updatenya lagi. Abisnya saya autis sama dunia jepangan saya dan nggak sempet berkecemplung, eh, berkecimpung sama dunia musik barat gitu. Tapi sekarang perlahan mulai ngikutin lagi Avril.
Superstar yang satu ini berhasil menyihir saya kagum sama dia sejak saya kelas 1 SMP. Kelas VII gitu. Dan sukanya sampe sekarang. Nggak tau kenapa deh sama superstar yang satu ini selalu berasa sama kakak sendiri *dilempar sendal rame-rame sama reader*.
Kharismanya itu loh, i love to know that her music can set me freeeee~~~~
Oke, buat di postingan ini kita fokus sama video clip terbarunya.
There's something superspecial in this song also the video clip. Kapan lagi coba Avril duet nyanyi sama suaminya? Huiiihhh, so sweet. Dan perubahan paling drastis selanjutnya dari penampilan Avril juga ada di video clip lagu ini. Avril jadi anggun banget doonnngggg. Image selengeannya ilang buat sementara. Cantik pake gaun sambil main piano. Terus suaminya, Chad Kroeger, nyanyi sambil main gitar dengan setelah jas gitu. Keren dan puas liat video clip lagu ini.
Ada satu hal yang bikin saya super bahagia denger lagu dan nonton video clip Let Me Go.
MY AVRIL IS BACK !!! Secara pribadi, saya lebih suka image Avril yang free, tapi nggak berlebihan juga. Biasa saja lah gitu. Dari warna musiknya juga. Perubahan super drastis di warna musik itu ada di album keempat, Goodbye Lullaby. Lagu-lagu di album ini cukup extremely out of pop nya Avril jadi bubblegum rock gitu. Apalagi di lagu What The Hell. Terus di album kelima juga ada sih beberapa kayak rock n roll. Tapi buat saya sih nggak masalah. Selama idola saya itu bisa mengekspresikan dirinya dengan baik, it's okay. Tapi di lagu Let Me Go, ini benar-benar back to Avril. Warna musik di lagu ini kayak di lagu-lagu Avril jaman debut. Sedikit mengingatkan sama innocence, nobody's home, dan keep holding on. Bedanya di Let Me Go ini tentu duet bareng suaminya itu, terus ditambah lagi instrumen musik yang dipakai juga lebih lembut menurutku. Dominasi piano, cello, sama biolanya suka banget. Terus teriak-teriak khas Avril di lagu galaunya juga ada (lagi).
Penasaran? Silahkan nonton disini. Mau download lagunya? Jangan kaget kalo judul lagunya jadi biar ku pergi. Itu demi kebaikan kalian, maksudnya biar kalian bisa download dan denger lagunya. Dengan harapan itu lagunya gak bakal dihapus sama servernya. Soalnya udah cukup banyak link download yang mati. So, ini dia. Downlooooaaaddddddd ^_^









