Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Saturday, 23 November 2019

Melepas Penjara Waktu

Waktu. Semua terjadi atas kehendak Sang Pencipta. Dan kita berputar. Menunggu waktu yang dikehendaki Sang Pemilik Kehendak. Kalau urutan isinya terasa random dan berantakan, ya tak apalah. Karena menulis bagi saya adalah salah satu terapi untuk memastikan pikiran saya tetap waras. Jadi mohon maaf ya, kualitas tulisan saya disini bisa dikatakan sangat biasa atau bahkan sangat menurun dibanding dahulu saat saya aktif menulis.

Di blog ini ketika saya buka lagi hari ini, yang entah sudah berapa lama saya tinggalkan, saya menyadari jejak yang saya tinggalkan untuk mengenal diri saya sendiri ternyata sangat banyak. Kepindahan saya ke Bandung sejujurnya membuat saya merasa lemah dan merasa kehilangan diri saya sendiri sampai saya tidak bisa mengenali diri saya sendiri. Siapa Rachmi?

Lalu saya mencoba menuliskan nama saya dalam mesin pencarian google. Rupanya selama ini cukup banyak orang mengutip tulisan saya, menyertakan sumber tulisannya pula. Pantas saja ketika kembali membuka blog ini statistiknya sangat tinggi bagi saya. Saya membaca jejak-jejak yang saya temukan dari mesin pencarian. Bagaimana orang menulis tentang saya dalam sudut pandang positif, bagaimana dahulu saya sangat mencintai dunia menulis sehingga segalanya bisa saya tuliskan dengan mudah. Sampai akhirnya di satu titik saya merasa mulai menemukan diri saya sendiri. Ya, Rachmi adalah manusia yang suka menulis, terlepas dari apakah isinya bagus atau tidak, bermanfaat atau tidak, dia tidak berpikir banyak hal. Pokoknya nulis. Tulis saja. Apapun itu.

Ada satu jejak yang sebenarnya mengingatkan pada luka. Tetapi hari ini, entah bagaimana saya tidak terpengaruh oleh luka tersebut, tetapi menganggap luka tersebut adalah salah satu bagian diri saya yang saya sembuhkan. Bahkan di blog ini saya menuliskan namanya dengan sangat jelas. Rasanya entahlah seperti "Oh, ternyata saya dahulu seperti ini ya." Tidak ada amarah apalagi dendam tetapi merasa tidak menyangka ternyata saya bisa melewati masa-masa sulit dalam hidup saya waktu itu.

Hampir 3 tahun saya terpenjara dalam sebuah luka. Tetapi saya sendiri baru menyadari bahwa luka itu kini telah sembuh, hanya meninggalkan bekas sebagai pengingat saja, tanpa rasa sakit dan tanpa amarah. Mengapa? Karena tanpa sadar, saya lebih banyak fokus pada diri saya sendiri, fokus membangun diri saya sendiri. Bagaimana bisa? Karena dorongan dari orang-orang di sekitar saya.

Achiw, sahabat yang sudah benar-benar saya anggap kakak sendiri mengatakan, saya sudah berada di level yang tepat, menyadari bahwa luka lama itu sudah sembuh dan bisa mengambil sikap dengan baik.
A Rangga, sahabat yang selalu menjadi penasihat yang bijak mengatakan, saya bisa menjadi seperti ini 60% nya adalah efek dari perhatian dan kasih sayang Teguh. Sikap yang Teguh ambil mendorong saya untuk memaafkan diri saya sendiri, memaafkan segala masa lalu yang telah terjadi, memaafkan orang-orang yang ada disana, dan memaafkan segala keadaan yang telah berlalu.

Pada titik ini saya merasa berhasil melepaskan salah satu beban hidup saya : Penjara waktu.

Saat saya merasa luka yang ada ini membuat saya menjadi penuh amarah dan rasa kesal, di situlah sebenarnya saya terpenjara oleh waktu. Terpenjara oleh suatu beban yang membuat saya dikuasai amarah masa lalu padahal langkah saya dan segala kehidupan saya sedang menuju masa depan. Bukankah itu artinya saya terpenjara pada masa lalu? Begitu kan?

Akhirnya juga saya menyadari, setiap luka ada obatnya, akan ada akhirnya dimana luka itu tidak mempengaruhi diri kita lagi. Jika obatnya begitu lama untuk bereaksi setelah kita mencari pertolongan, mungkin obat yang kita perlukan adalah kebebasan dari dalam diri kita sendiri. Sebuah kebebasan dengan melepas penjara waktu yang selama ini membelenggu.

Monday, 4 July 2016

Now We Have Different Way

Well, ini postingan isinya murni curhatan saya tentang kejadian kemarin. Meskipun saya akui ini pahit, but it's better rather than nggak bilang apapun dan pergi tanpa alasan

===========================

Saya dan Mas Jun udah lama ada di komunitas yang sama, bahkan termasuk pendiri dari komunitas tersebut. Sudah hampir 4 tahun komunitas itu ada dan entah sudah  berapa kali juga saya keluar masuk komunitas itu.

Tapi kali ini saya merasa mantap untuk keluar dari komunitas tersebut. Dan perlahan melepaskan salah satu hobi ini karena semakin lama secara pribadi saya semakin tidak merasakan manfaatnya. Menuangkan kreatifitas itu penting, saya sangat memahami hal tersebut. Tetapi dengan keadaan saya sekarang membuat saya merasakan cara lain menuangkan kreatifitas tersebut dengan nyaman.

Di samping itu, saya juga lelah dengan drama-drama yang terjadi. Okelah katanya sekedar tahu, itu pun bagi para petinggi. Masalahnya, saya sudah nggak mau tau. Dari yang sudah-sudah selalu saja dari seseorang yang sama atau dengan tipe masalah yang sama.

Saya bahkan sudah tidak merasakan unsur fun dan enjoy berada di dalamnya. Seperti nyawa saya sudah tidak ada di sana. Bahkan kerap kali ketika pulang kumpulan, bukannya refresh saya jadi malah ngomongin masalah orang. It's negative side of me not the community. Saya sadar hal itu, maka dari itulah lebih baik saya yang pergi. Selain menambah daftar negative thinking pada suatu hal, kalau nanti saya gak sengaja ngomongin di luar kan komunitas juga yang jelek.

Saya juga punya target-target lain. Nggak jarang juga saya merasa buang-buang waktu banget untuk sekedar kumpulan. Kerap kali juga setiap kumpulan pikiran saya tidak tertuju pada topik yang dipikirkan teman-teman yang lain, tetapi justru kepikiran buku dan jurnal yang pengen dibaca, kepikiran buat ngereview buku, nonton film, diskusi tentang pembelajaran, pengen olahraga, dan termasuk ketika sedang menyusun skripsi.

Kemarin saya coba untuk membicarakan ketidaknyamanan saya ini kepada mas jun, setelah sekitar satu bulan terakhir berusaha memikirkan masak-masak mengenai ketidaknyamanan yang ingin saya bicarakan. Karena ada satu hal yang saya takutkan : respon mas jun dengan kemarahan.

Saya kira, kemarin dia dalam keadaan tenang, netral, dan tentu saja saya berharap dia bersikap netral, memisahkan urusan komunitas dan hubungan kami berdua sehingga tidak menambah ketidaknyamanan yang sudah saya rasakan di komunitas berimbas pada hubungan kami berdua.

Ternyata saya salah. Entah saya yang salah menilai dia atau memang cara saya menyampaikan yang salah sehingga dia tidak paham dan berbalik marah. Ketakutan dan kekhawatiran yang saya jaga secara hati-hati dan berusaha saya antisipasi malah terjadi.

Saya merasa sangat sedih.
Obrolan-obrolan hangat yang sebelumnya membuat kami tersenyum dan tertawa semua menghilang seketika itu juga.

Mas jun tidak terima dengan perasaan saya yang tidak nyaman karena dia merasa dia nyaman-nyaman saja disana dan merasa bahwa komunitas itu telah menjadi keluarganya sendiri.

Tapi saya bukan dia, saya merasakan hal yang berbeda. Saya harap dia bisa menghargai ketidaknyamanan yang saya rasakan, tapi ternyata tidak. Sikap dia tersebut justru membuat saya semakin mantap untuk keluar. Karena ketika terjadi perbedaan pendapat, hubungan kami yang jadi imbasnya, yang jadi korbannya, dan saya yang jadi pelampiasan kemarahan tersebut.

Tentu saja, saya tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup untuk ada dalam keadaan seperti itu.

Akhir-akhir ini seringkali dia membicarakan soal rencana menikah, tapi jika perbedaan pendapat di komunitas menyulut kemarahan dia dan membuat kami bertengkar, tentu saja saya tidak mau.

Saya mengatakan ketidaknyamanan saya bukan berarti meminta dia untuk keluar juga, tidak sama sekali. Saya tetap menghargai pilihan dia untuk tetap berada di sana, menghargai kenyamanan yang dia rasakan, sama sekali tidak memaksa dia untuk keluar juga. Bahkan tidak meminta dia untuk memilih komunitas atau saya. Karena saya mengerti, keberadaan saya dan komunitas sama pentingnya bagi mas jun.

Saya coba mengatakan ini perlahan, sedikit-sedikit saja sudah menyulut kemarahan semengesalkan kemarin, apa jadinya kalau saya tiba-tiba lapor ke ketua saya pengen keluar tanpa memberi tahu dia terlebih dahulu dan membuat dia tidak tahu apa-apa soal ketidaknyamanan yang saya rasakan? Mungkin bisa membuat dia marah berminggu-minggu atau kemungkinan terburuknya putus, seperti yang pernah terjadi sekitar 1 atau 2 tahun silam. Jelas saya tidak mau.

Dia mulai tenang ketika saya mengatakan bahwa mulai detik ini saya tidak akan pernah membicarakan dan membahas soal komunitas ini, saya pun tidak akan mengganggu dia untuk tetap berada di sana. Saya hargai apa yang dia senangi tersebut, hanya saja saya tidak bisa bersama-sama merasakan hal tersebut seperti yang sudah-sudah. Saya sudah memutuskan mengambil jalan lain yang menurut saya disitulah saya ingin berada. Saya harap ketika suatu saat saya memutuskan sesuatu tanpa membicarakan terlebih dahulu kepada dia, dia tidak merespon dengan kemarahan seperti ini. Seperti yang dia katakan sebelumnya "kalau kamu mau ambil keputusan seperti ini, buat apa ngomong ke aku? Mending aku gatau apa-apa. Ngomong langsung sana sama ketua". Padahal dulu saya sempat keluar tanpa memberi tahu dia pun dia tidak kalah marah seperti yang terjadi kemarin. Karena sudah jelas saya coba katakan perlahan saja membuat dia semarah ini.

Sisa-sisa rasa kesal kemarin masih tersisa, sungguh. Terutama respon kemarahan yang saya dapatkan. Tapi semoga saja ini jadi pelajaran bahwa kenyataan itu tidak selamanya manis, ada pula pahit bahkan pada suatu hal yang jelas-jelas kami jalani bersama.

Sunday, 3 July 2016

Kapan mau nulis lagi?

Kalo pikiran saya lagi kena sama pertanyaan itu, rasanya tuh ya, udah punya banyak target malah banyak yang gak bisa saya lakukan secara konsisten.

Yep.

Gak konsisten. Buktinya? Liat aja di blog ini. Tulisannya banyak yang random, waktu postingnya juga super random.

Menulis termasuk kemampuan yang paling banyak membutuhkan energi, menurut saya. Tapi segala ciri bisa dengan mudah ditemukan, bagaimana seseorang berpikir, ketertataan pemikiran, keteraturan alur, bisa terlihat dari tulisannya. Minat yang dimiliki seseorang juga bisa terlihat dari topik-topik yang dipilih.

Entah ini sebagai suatu keberuntungan atau kesialan, saya termasuk orang yang super random dalam menulis, di saat senggang rasanya lebih mudah menulis untuk mencurahkan apa yang saya sukai dan apa yang benar-benar saya pikirkan. Makanya topiknya random. Yang review buku ada, make up ada, tapi saya sendiri gatau sebenernya saya pengen konsisten dimana sih, karena pada dasarnya saya suka menulis hanya untuk kesenangan. Misalnya lagi suka karokean, pasti topiknya karokean. Atau lagi suka sama games terbaru, sudah pasti saya bakal baca seluk beluknya di wikia dan kalo sempet dan lagi mood pasti saya tulis juga review nya.

Pernahkah terbersit keinginan untuk menulis secara konsisten supaya bisa produktif?
Of course saya pengen dong.
Tapi dengan kebiasaan minat random dan mood random ini sepertinya rutinitas saya nya yang harus diperbaiki sebelum bisa fokus pada satu topik tertentu.

Ngomongin soal topik, saya tertarik banget sama topik gender yang fokus sama pedagogik. Jarang loh buku yang bisa ngebahas hal itu. Terbukti waktu saya ngerjain skripsi susah banget cari sumber berbahasa indonesia tentang pendidikan berbasis gender. Padahal seru. Aselik. Jadilah sumbernya kebanyakan full english which means otak saya berproses lebih banyak dibanding baca sumber berbahasa indonesia dan sering banget bikin saya kelaparan gara-gara mikir keras. Rata-rata topik gender ngomongin soal kesetaraan, ya itu betul, arahnya pasti ke sana. But ya, belum ada yg konsen ke arah pendidikan secara mendalam. Kebanyakan ngomongin penindasan terhadap perempuan dan dominasi laki-laki, padahal yang saya pengen tuh justru pendidikan yang berfokus pada kebutuhan gender. Laki-laki dan perempuan jelas tercipta dengan sangat berbeda secara fisik, maka dari itu akan mempengaruhi kebutuhan secara sosialnya juga untuk bisa hidup bermasyarakat. Kebutuhan tersebut salah satunya kan bisa diimplementasikan dalam pendidikan. Nah, saya pengen itu, rinci, jelas, dan aplikatif gitu.

Jadi, kapan mau mulai nulis lagi?

Monday, 30 June 2014

Book Review : Aturlah Uangmu Sebelum Dia Mengaturmu


Buku berjudul "Aturlah Uangmu Sebelum Dia Mengaturmu" ini menjadi buku pertama yang saya review di bulan Ramadhan. Tadinya pengen review buku yang ada nuansa religinya, buku keagamaan gitu yang sudah saya baca tentunya. Tapi tangan ini rasanya ngebet banget pengen review buku yang satu ini. Saya suka sekali dengan konten buku ini dan saya rasa saran-saran perihal keuangan yang ada di buku ini cukup sederhana dan efektif untuk dilaksanakan. Setidaknya itu yang saya rasakan setelah melakukan saran-saran yang terdapat dalam buku ini. Apalagi selama puasa dan menjelang lebaran pasti banyak harga yang mendadak naik. Naiknya harga bahan makanan sudah pasti bikin harga makanan juga naik. Baru juga puasa hari kedua, udah ada beberapa yang ngajakin bukber. Bukber juga kan butuh dana karena makan di luar rumah. Selain itu, ada target acara yang ingin saya hadiri bulan agustus nanti dan butuh biaya yang lumayan tinggi buat saya yaitu AFA ID di Jakarta Convention Center alias JCC. Jadi ya harus bisa mengatur keuangan dengan baik.

Sebenarnya saya ini bukan orang yang tertarik dengan dunia ekonomi. Tetapi saya juga nggak bisa mengelak kalau kehidupan kita ini nggak bisa lepas dari yang namanya ekonomi terutama yang berkaitan dengan keuangan. Entah kenapa sejak pertama kali lihat buku ini saya langsung tertarik *sekaligus kesindir >,< *. Saya sadar, saya ini orangnya boros dan cenderung nggak bisa mengatur keuangan. Padahal kudu bisa banget kan apalagi perempuan yang di masa depan nanti jadi penentu keuangan keluarga juga. Atas dasar kesadaran itulah *sekaligus kesindir juga*, akhirnya saya beli buku ini.

Kira-kira beginilah tampilan buku tersebut


Ini tampilan covernya. Saya suka. Simple dan menarik.

Seperti inilah tampilan isi bukunya. Kata-kata "Jangan Tergiur Diskon" ini beneran jleb banget buat saya.

Di belakangnya ada spoiler tentang pokok-pokok bahasan buku.

Identitas bukunya ini

Judul Buku : Aturlah Uangmu Sebelum Dia Mengaturmu
Karya : Maskur Anhari
Penerbit : Notebook
Cetakan : Cetakan I, 2014
Tebal : 184 lembar
Harga : Rp. 35.500 (Harganya segini waktu saya beli di Gramedia)

Di bab awal, pembaca diberi brainstorming mengenai perbedaan antara ngirit dan pelit. Sepele memang, tapi penting banget. Dari bab ini saya paham bahwa irit itu bisa mengatur keuangan dengan memenuhi kebutuhan dan nggak menyiksa diri. Inget ya, nggak menyiksa diri. Misalnya gara-gara ngirit kita bela-belain nggak makan seharian sampe badan lemes lalu sakit. Ya nggak gitu juga. Itu mah pelit namanya. Jadi irit tuh lebih ke mengganti sesuatu yang kita suka yang harganya tinggi ke sesuatu yang kita suka juga tapi harganya lebih miring dan kualitas tetap diperhatikan gitu.

Setelah itu, pembahasan selanjutnya mengenai pengaturan keuangan. Pengaturan keuangan ini menekankan banget supaya uang yang kita punya itu bisa kita tabung buat masa depan baik yang direncanakan maupun tidak terduga. Yang namanya manusia pasti banyak pengennya. Kalo saya pribadi ya pengen koleksi wig karakter lah, beli kostum cosplay lah, beli kain buat bikin baju sendiri, pengen koleksi novel terjemahan. pengen koleksi novel fiksi ilmiah sama fantasi, pengen koleksi buku yang isinya english, banyak kan? Nah, kalo nggak diatur baik-baik kita jadi boros juga kan? waduuhh.

Terus dibahas juga mengenai pentingnya berinvestasi. Nah ini nih yang kadang saya lupakan juga kalau saya udah terima uang beasiswa yang saya punya. Belanja aja sampe nggak sadar uang saya abis. Pola inilah yang  harus saya ubah 360 derajat sebab potensi boros akutnya besar sekali. Waduhh bahayaa. Investasi yang paling bikin saya tertarik ya investasi emas yang nilai inflasinya 0. Maksud dari nilai investasi 0 tuh gini. Kita beli domba tahun ini misalnya 1 juta. Terus kita investasi emas senilai 1 juta rupiah juga. Lima tahun kemudian harga domba jadi dua kali lipatnya yaitu 2 juta. Nah, kalau emasnya kita jual, nilainya akan tetap senilai satu domba itu, dua juta. Enak kan kalo kayak gitu. Kita nggak perlu khawatir investasi kita naik turun karena inflasi yang nggak stabil. 

Selain investasi, pembaca juga disarankan untuk punya sumber keuangan cadangan seperti usaha sampingan. Bisa jualan keripik terus titip di warung-warung, ikutan MLM alias multi level marketing misalnya buat yang mahasiswa seperti saya. Untuk sumber keuangan cadangan masa depan yang membuat saya cukup tertarik adalah usaha membuat kos-kosan. Yep, kos-kosan! Modal awalnya memang besar, harus menyediakan rumah. Tapi kan enak uangnya ngalir terus tiap bulan kalo yang kos di kita betah dan fasilitas yang disediakan memadai. Maka dari itu saya harus nabung dari sekarang buat ini.

Sebelum pembaca dikasih materi tentang utang piutang, yang dibahas adalah strategi buat menabung. Di buku ini dikasih contoh simple yang mudah dipahami juga soal gimana sih menabung yang baik itu. Tetapi tetep ya gimana pun strategi kita mengelola keuangan termasuk menabung ini, kalau nggak disiplin ya gagal terus strateginya. Kuncinya ada di disiplin dan konsisten. Saya sendiri mengalami kesulitan juga sebenarnya menerapkan strategi keuangan ini. Contoh sederhananya yang saya lakukan seperti ini. Dalam satu minggu kan kuliah tatap muka itu hanya empat hari saja. Jarak saya ke kampus sekitar 1,5 km dan jalur kendaraan umum dari rumah saya tuh tanggung banget. Jadi kalo saya berangkat, jalan kaki dulu ke jalur angkot yang menuju kampus. Turunnya pun nggak pas depan kampus jadi harus jalan kaki lagi atau naik angkot lagi. Rempong kan? Kalau jalan kaki setelah naik angkot itu rasanya suka puyeng dan enek. Nggak tau kenapa. Kalau naik angkot lagi jadi boros di ongkos. Akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki saja kalau kuliahnya pagi. Selain badan sehat, jalan kaki itu menyenangkan. Sepanjang jalan ada aja orang yang nyapa kita. Saya seneng kalau kayak gitu. Strategi lain menghindari penggunaan angkot itu janjian sama pacar berangkat kuliah. Bukan berarti saya dianter-jemput tiap hari sama pacar, itu sih malah pacar saya jadi ojek dong. Tapi liat jadwal kuliah kita (saya dan pacar saya beda kampus tapi sejalur). Kalau jam berangkatnya bareng, misalnya sama-sama hari senin jam 10, berangkat barenglah kita. Kalau jam pulangnya bareng, ya pulang barenglah. Kalau jam pulangnya beda tetep masing-masing. Nah, kalau setelah kuliah saya cape dan nggak kuat jalan kaki sampai rumah, baru lah saya naik angkot. Kalau kuat ya jalan kaki juga sampai rumah. Setelah saya lakukan strategi ini ternyata hasilnya cukup memuaskan. Dalam empat hari saya bisa berhemat 20ribu sampai 30ribu. Lumayan banget kan?

Nah, baru deh pembaca diajak mengatasi perihal keuangan yang berkaitan dengan utang piutang. Saya juga punya beberapa utang dan sebelum-sebelumnya selalu bingung mengatasinya bagaimana. Buku ini punya masukan-masukan yang efektif menurut saya untuk menuntaskan utang itu. Selain itu juga dibahas gimana sikap kita selanjutnya kalau utang sudah lunas dan niat utang lagi. Banyak yang harus dipikirkan memang. Intinya kalo ngutang jangan seenak jidat tapi minimal pikirin juga buat ngebayarnya gimana gitu. Harus disiplin juga buat bayar utang. Uang tabungan nggak boleh keganggu utang. Ini masih agak sulit saya lakukan tapi saya akan terus berusaha supaya uang tabungan tetap utuh dan punya jatah sendiri.

Penjelasan di bukunya ini menurut saya lengkap dan padat. Ini yang jadi nilai plus banget dari saya buat buku ini selain tampilan dan judul yang menarik. Minusnya ada sih, suka ada salah ketik yang nggak keedit tapi saya sih selow aja, udah biasa sama buku yang ada salah ketiknya meski lumayan banyak. Yang penting isinya bermanfaat.

Rating dari saya 4.5 dari 5 bintang

Recommended? Tentu saja, sangat recommended :D


Sunday, 29 June 2014

New Target Buat My Lovely Blog :D

Menyambut bulan ramadhan ini saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman semua yang menjalankan :D Jangan lupa target-target ramadhannya dipenuhi ya supaya pahala yang kita dapatkan berkah dan buanyaakkk. Hehehe.

Ngomong-ngomong soal Ramadhan, sudah pasti setiap orang punya target ibadah masing-masing. Kebanyakan memiliki target untuk bisa khatam Al-Quran di bulan Ramadhan ini. Saya termasuk salah satunya dan saya harap masa berhalangan saya saat Ramadhan tidak mengganggu target saya yang satu itu. Aamiin.

Berawal dari beres-beres folder di komputer, saya pikir banyak sekali file-file tugas yang berserakan di luar folder. Kemarin-kemarin sempat sibuk sehingga file-file tersebut belum sempat saya bereskan dan tata rapi dalam folder-folder. Setelah tertata rapi, saya punya ide untuk membuat target akademis dan literasi.

Apa itu target akademis?
Target akademis yang saya maksudkan disini adalah target-target yang berkaitan dengan kehidupan kuliah saya dan memanfaatkan keberadaan blog ini sebagai media posting tulisan saya.

Target akademis
Posting semua file makalah, resume, artikel, dan sebagainya yang telah saya buat minimal dalam satu periode semester sebelumnya yaitu selama semester 4. Sebenarnya ada beberapa file tugas juga dari semester tiga yang belum sempat saya posting dan akan saya usahakan untuk posting di blog ini. Alasan saya membuat target ini adalah beberapa mata kuliah yang saya kontrak rupanya memiliki referensi yang sangat terbatas. Saya sendiri juga membuat makalah untuk mata kuliah yang langka berdasarkan diskusi dengan teman-teman dan dosen dengan tetap mengacu pada buku yang ada meskipun hanya satu atau artikel di internet yang sangat terbatas. Tidak jarang juga saya datangi guru saya ketika SD untuk memahami suatu materi untuk memenuhi rasa ingin tahu saya untuk materi-materi atau mata kuliah yang berbasis praktek seperti micro teaching. Selain alasan tersebut, alasan lainnya adalah bahwa postingan saya di blog ini yang memiliki banyak pemirsa adalah materi perkuliahan. Saya senang sekali hari ini blog saya sudah dilihat oleh lebih dari 17000 orang padahal jarang saya buka. Postingan pertama yang paling sering dibuka adalah review make up eyeshadow viva dan yang kedua dan seterusnya adalah materi-materi kuliah. Jadi ini adalah kesempatan yang bagus buat meningkatkan pemirsa blog saya sekaligus berbagi ilmu dengan para pembaca.

Selanjutnya target literasi. Apa itu target literasi?
Target literasi yang saya maksudkan disini adalah target-target yang berkaitan dengan literasi tentunya. Baik yang serius banget maupun yang imajinatif (maksudnya lebih mengarah ke sastra gitu)

Target literasi pertama
Baca buku minimal tiga buku dalam satu minggu dan buat reviewnya di blog ini. Buku yang dibaca bisa buku yang berkaitan dengan kuliah, novel, sastra, dan sebagainya. Pokoknya baca buku. Penting sekali untuk membaca buku. Sudah sering kita dengar bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca kita bisa menambah pengetahuan. Yang saya rasakan pula, membaca memberikan stimulus kepada kita salah satunya dan yang terpenting yaitu menulis. Tulisan kita mencerminkan siapa kita dan tulisan kita mencerminkan buku seperti apa saja yang pernah kita baca.

Target literasi kedua
Buat cerpen minimal satu cerpen satu minggu. Agak berat sebenarnya target ini sebab saya mulai sangat malas menulis cerpen dan ada keparnoan-keparnoan sebagai sebab dari sugesti yang berlebihan. Saya paling suka menulis cerpen yang sad ending atau gantung dan saya takut kejadian yang saya tulis dalam cerpen malah kejadian di kehidupan nyata. Pernah ada yang mengatakan bahwa kata-kata adalah doa. Mungkin ini adalah bukti dari kata-kata tersebut ya? Tapi saya akan berusaha sebaik-baiknya supaya bisa meluluskan target ini selama ramadhan. Kalau tidak saya targetkan, kapan saya akan menulis cerpen lagi? Masa saya nggak nulis cerpen sama sekali sih? Nggak mau lah.

Target literasi ketiga
Baca puisi-puisi penyair. Satu minggu konsisten membaca karya satu penyair. Sampai sekarang penyair favorit saya adalah Sapardi Djoko Darmono dan Soe Hok Gie. Target ini saya buat karena saya ingin out of the box mengeksplor lebih banyak karya sastra dari banyak penyair.

Target literasi keempat
Menulis puisi. Satu minggu minimal dua puisi dengan tema sesuka hati. Bisa dikatakan ini adalah bentuk tindak lanjut dari target literasi keempat.

Oh iya, berhubung pemirsa blog saya udah 17000 lebih dan menurut saya itu banyak banget karena blog ini sebenarnya jarang saya buka dan jarang saya update juga. Sempet kepikir pengen kasih give away buat pemirsa blog saya. Tapi saya coba pikir-pikir dulu deh nanti dikompetisikannya seperti apa. Hadiahnya tentu menarik bangetlah sebab barang-barangnya sudah ada sebenarnya dan masih baru. Ada make up, ada aksesoris, ada skin care, ada buku juga, ada kerajinan, banyaklah. Saya coba pikirkan dulu. Mudah-mudahan besok lusa ada keputusan.

See you :D

Monday, 19 May 2014

Ima Ai wo Katarou...(Sekarang, Mari Kita Berbicara Tentang Cinta)

Well well well

Postingan saya kali ini agak berbeda dari sebelumnya
Di postingan ini saya akan ceritakan sesuatu yang sangat pribadiii >,<

My love life

Malu juga sih sebenernya
Tapi lumayan termotivasi setelah baca postingan Teh Dita yang ini
Ada sedikit keberanianlah buat menceritakan sesuatu yang nggak banyak orang tau
Dan biasanya memang postingan tentang Love Life itu kebanyakan menarik
Mudah-mudahan punya saya juga termasuk. Hehehe XD
Tulisan di blog ini adalah repost dari catatan saya di facebook
Bisa cekidot kesini buat liat postingan aslinya
Nggak ada yang saya ubah kok selain opening ini

Saya ingat, waktu saya menulis catatan itu lagi bener-bener full in love
Yah, namanya juga baru jadian
Feelingnya pasti ada sedikit beda lah dibandingkan sekarang yang udah hampir dua tahun dan sama-sama punya kesibukan
Melewati banyak hal dan salah satu yang paling nyebelin adalah bertengkar

Yep, anybody get so tired after a fight, so do us
*Please, kalimat di atas jangan dikasih makna ambigu, buat yang ngerti*

Tapi ada hikmahnya juga
Terutama setelah denger wejangan dari Mas Afin
Sahabat terbaik yang pernah saya keceng *dan kadang saya suka masuk angin kalo inget itu /WOY *
Dia bilang gini

Gue, kalo ke orang yang udah jadian lama yang selain elo, pasti nanya "Udah berapa kali lo pada bertengkar?"
Kalo yang nggak ngerti, pasti nyangka gue ini mendoakan mereka segera putus
Iya kalo negative thinking gitu
Tapi kalo gua bilang ke lu, gua yakin lu ngerti apa yang gua maksud

Dan ya, aku ngerti itu. Banget.

Jadi gini. Lu sama cowok lu sama-sama dalam keadaan nggak bisa menyampaikan apa yang sebenernya pengen kalian sampaikan. Terus kependem dan kecampur amarah jadilah bertengkar.Jadi sebenernya bertengkar juga salah satu cara komunikasi meski termasuk cara yang nggak baik.
Paling nggak baik malah.
Lu tau sendiri kan kalo cara terbaik komunikasi ya ngomong baik-baik dan dengerin baik-baik.

Wejangan Mas Afin berhasil memutarbalikkan apa yang saya pikirkan tentang ingin-putus-gamau-putus-pengen-putus-tapi-masih-ragu-dan-takut-sakit-hati-akhirnya-bingung-sendiri
Dari situlah makin kuat keinginan saya untuk bertahan menjalankan hubungan ini

Hidup dan dunia lu tuh kayak shoujou manga (Contoh : Tokyo Mew Mew). Cewek polos yang berharap suatu hari dapet pangeran tampan atau cowok romantis. 
Oke, tampan itu relatif karena lu pernah berfikir gua tampan *GA GITU JUGA MAS* 
Tapi gua tau, dia bener-bener bikin lu jatuh cinta kayak gini, itu berarti lu berdua gak main-main sama hubungan yang kalian jalanin. 
Dan gua yakin kalo misalnya lu berdua kepisah, putus kek, apa kek, pokoknya kepisah dari hubungan ini, lu bakal mati rasa.
Bukannya gua nyumpahin, tapi gua tau lu tipe orang yang sering gagal move on dan susah move on.
Ngerti?

Oke, postingan ini bukanlah postingan tentang wejangan Mas Afin, tapi My Love Life

Wejangan dari Mas Afin ini hanyalah gambaran bahwa sahabat saya yang satu ini adalah pemirsa, pengamat, dan pendengar paling baik kalo saya udah mentok ke siapa harus cerita selain melalui tulisan soalnya sekarang ini saya jadi tipe orang-yang-nggak-berani-cerita-ke-siapa-siapa-tentang-masalah-dalam-love-life. Dari wejangan di atas pula bisa jadi gambaran bagaimana hubungan saya dan Mas Jun berjalan dalam hampir dua tahun terakhir.

Ini dia catatan Love Life yang menjadi topik utama dalam postingan ini!

Check it out!

***

Aku bingung mau kasih judul apa buat tulisan ini
Tapi nggak tahu kenapa juga aku pengen banget nulis ini
Karena aku lagi denger lagunya arashi yang ima ai wo katarou, yaudah, itu aja judulnya. lagian sesuai.

***

Berawal dari cosplay dan rasa kesepian karena yang benar-benar konsisten suka musik jepang Cuma aku sama Afin. Udah kena gosip gembar-gembor sana-sini. Yah emang waktu itu ada perasaan juga sama dia sih. Terlepas dari apa gara-gara suka musik jepang atau enggak, nggak tahu kenapalah jadi suka sama tuh anak. Padahal awalnya Cuma kagum doang gara-gara matematikanya mantep mampus meskipun biologinya jeblok mampus. *sadis*

Pas lagi rapat proyeksi, aku kekeh dengan halus pengen ngangkat yang ada budaya jepangnya. Nggak pol ngebahas musik juga nggak apa-apa yang penting budaya jepang. Muak aku liat korea sana-sini. Akhirnya dikabulkan dan di minggu itu diangkat tema anime.

Belia. Orang yang aku hubungi pertama kali buat diajak jadi model. Dia langsung setuju dan mau ngajak temennya juga yang suka cosplay.

Dari situ kita ketemu.
Pemotretan hari jumat itu, meskipun dengan capek dan lari-lari dari sejak di kelas gara-gara kelas pengayaan telat bubar dan angkot pada ngetem, aku nggak mau ketinggalan buat andil dalam tema yang aku usulkan. Aku liat Belia begitu nyampe di kantor, di deket wc tepatnya lagi dandan. Lagi bareng sama tiga cowok.

Salah satunya kamu.
Yang lagi bedakin tangan biar pucet dan pas liat mukamu emang beneran pucet.
Aku Cuma diem dan mikir. Total banget ya orang-orang ni?
Dengan capek dan gujil keringetan abis dari sekolah, yah, dengan begitu aku ketemu kalian, ketemu kamu.
Singkat cerita pemotretan berlangsung, lancar dan sesuai harapan. Hingga setelah selesai pemotretan aku kebagian tugas wawancara kalian semua. Inget banget ketika ditanya modal berapa buat cosplay, jawaban kamu paling irit secara ekonomi dengan bilang Cuma modal ngubek isi lemari dan dapet kaos polos plus celana jeans soalnya wignya ada yang kasih.

Nggak modal banget sih? Dandan paling tebel tapi Cuma modal gitu doang? Oh yeah?!
Pas pulang dan nganter kalian ke parkiran, aku mintain nomor kontak kalian satu-satu termasuk nama jepang kalian. Dan kamu yang paling semangat jelasin makna nama jepangmu itu. Nekozawa Junichi.

Keren juga nih anak pemikirannya. Yah, setidaknya nggak ngasal bikin namalah~
Satu hal positif menurut aku.

***

Ke toko malem-malem gara-gara disuruh ngekonsep matsuri sama kantor bari teu jadi.

Gujil lagi, pake seragam hari jumat yang warna putih-putih *seragam favoritku karena ukurannya paling pas di badan diantara semua seragam SMA yang aku pake*. Akhirnya aku liat wujud kamu tanpa cosu.

Ih, orang aneh? Masih musim pake kupluk? Ah, sudahlah, emang gitu kali.
Intinya ngobrol panjang lebarlah disitu. Pas mau pulang, sebenernya duitku ilang, mana udah jam 9 malem pula. Sudahlah, aku pulang jalan kaki saja. Lagian nggak terlalu jauh dari rumah. Padahal sempet minta anter pulang ke kamu tapi kamunya ogah. Yaudah.
Eeh, lagi enak-enaknya jalan kaki sambil denger lagu pake headset ada motor berhenti depanku, taunya kamu.
Udah malem dan mulai gerimis. Akhirnya kamu nawarin tumpangan. Yaudah, lagian gerimis.

SCANDAL – Burn
Lagu yang waktu itu aku putar sepanjang perjalanan pulang, Cuma satu lagu itu doang.

***

Beuh, sekolahku penuh sama siswa SMA yang ikut Try Out ITB. Lumayan sih biar tau soal-soalnya kayak gimana dan kali aja ketemu sama temen lama kan jadi ngumpul lagi.

Pusing
Beuh, itu soal minta dibakar kali yah bukannya dikerjain. Akhirnya pake jurus ala babeh agus. Tutup soal dan isi ljk sesuka hati. Alhasil, dalam waktu satu jam aku udah beres ngerjain soal-soal yang minta dibakar itu. Lebih tepatnya ngisi ljk tanpa liat soal.

Beres.
Keluar kelas dan keliling-keliling stan fakultas. Ada yang nepuk dari belakang *nepuk bukan sih? Pokoknya nyahutin*

Kamu
Yang aku lupa namanya, yang aku lupa itu teh siapa, yang aku lupa nih orang kok berani-beraninya. Terus kamu nunjuk-nunjukkin telunjuk kamu ke hidung sambil bilang Jun.

Jun? Yang mana yah?
Cosplay. Yah, kata kunci itu. Aku inget. Oh, Juniar!

Baka !!!

Dianya inget, akunya enggak. Tapi yaudahlah. Akhirnya ke stan SAPPK bareng. Kamu nanya-nanya arsitektur, aku nanya-nanya kabar teh rita yang bagian jaga stan itu. Mulai deh usilnya sama-sama keluar.

Ikan julung-julung
Julukan yang kamu kasih ke aku waktu itu dan aku manggil kamu konstruksi bangunan. Dan disitu penyakit AMQ aku keluar.

Narik-narik jaket orang lain.
Dan itu adalah jaket punyamu, yang restletingnya double. Udah kebiasaan di sekolah doyan banget narik-narik jaket orang. Entah kelainan atau apalah, nggak ke cewek nggak ke cowok. Tapi Cuma pas lagi di AMQ aja. Beberapa saat kemudian tanpa sadar kepisah dua-duanya.

***

Risris sakit, abis operasi. Nggak tahu gimana jadi mau jenguk risris bareng. Emang aku kangen sama risris juga sih. Janjian di fb kamu nyamper abis magrib dan mau nunggu di depan gang. Tau-taunya malah ada di rumah pas aku keluar kamar.

Nih orang berani bener? Baru juga kesini udah ...... *speechless*
Yasudahlah, yang pasti jadi malem itu jenguk risris. Selama jenguk risris, keliatan deh aslinya nih orang kayak gimana. Unik. Itu yang ada di pikiran aku waktu itu.
Jenguk risris yang kedua kalinya pas ada ichot dan ada kamu juga di situ. Nggak tahu kenapa ada perasaan aneh disitu. Aneh banget tapi nggak tahu apa. Ada perasaan nggak rela tapi nggak tahu gara-gara apa.
Pas mau pulang, agak terjadi sedikit percekcokan. Risris yang kekeh biar aku dianter sama kamu buat pulang dan kamu yang pengen buru-buru pulang.

Siapa aku? Ngapain coba aku ke situ? Kenapa aku ngerasa sakit hati? Apa yang bikin aku sakit hati? Apa yang bikin aku nggak tenang? Dan yang pasti...Apa yang bikin aku pengen nangis malam itu?
Aku nggak tahu. Keputusannya aku pulang sendiri, karena emang ya itu, siapa aku gitu, toh itu urusan kalian. Katanya risris pengen dijenguk lagi. Oke aku turutin karena katanya ada yang mau diomongin.
Akhirnya aku pamit pulang disitu. Pas pulang nggak tahu kenapa bener-bener pengen nangis. Aku lari sepanjang jalan. Tadinya mau naik angkot nggak jadi. Emosi aku keluar. Aku lari nyampe rumah, selama lari aku tahan biar nggak nangis. Begitu nyampe depan rumah, diem, baru nangis. Orang rumah pada heran tapi aku langsung masuk kamar dan tidur.

Besok paginya aku langsung ke rs, ke risris sambil kasih risol. Dan kamu tahu apa yang risris bilang waktu itu?

Mi, kamu sama jun cocok. Aku setuju banget kalo kalian jadian, pacaran terus sampe nikah dan punya anak. Punya kehidupan sampe kakek nenek. Sampe maut yang memisahkan kalian!
Nah lho?! Aku heran, bengong, bingung. Apaan nih maksudnya?

Percaya deh sama aku. Suatu hari nanti Jun bakal bener-bener sayang sama kamu! Jauh dibanding waktu dia sayang sama ichot.
Makin nggak ngerti waktu itu sama omongannya risris.

***

Entah karena feeling risris yang kuat atau emang takdir tapi keinginan itu ada sekarang! Dalam diri aku dan aku harap selalu dalam diri kamu juga!


Alay?
Yeah i admit it. LOL. But YOLO...You Only Live Once
So just enjoy it
See you on next post!

Wednesday, 16 October 2013

Yippiiieeeee !!! Video Clip Avril yang Baru Udah Ada !!! ^_^

Tau Avril? Itu loh, Avril Lavigne. Yang nyanyi lagu Sk8er Boy, Girlfriend, What The Hell?
Masih nggak tau juga? Oke. Silahkan search di google dulu deh~ atau baca disini. Oke, liat aja pic di bawah ini.








Udah diliat? Udah dibaca? Tau kan yang itu? Anggap saja kalian tau. Maksa? Biarin, orang saya yang nulis kok. *ditabok rame-rame*

So happy today. Akhirnya si teteh avril *huek* ini rilis video clip terbarunya buat lagu Let Me Go. Udah agak lama juga sih nggak update tentang Avril. Baru sekarang-sekarang nih ngikutin updatenya lagi. Abisnya saya autis sama dunia jepangan saya dan nggak sempet berkecemplung, eh, berkecimpung sama dunia musik barat gitu. Tapi sekarang perlahan mulai ngikutin lagi Avril.

Superstar yang satu ini berhasil menyihir saya kagum sama dia sejak saya kelas 1 SMP. Kelas VII gitu. Dan sukanya sampe sekarang. Nggak tau kenapa deh sama superstar yang satu ini selalu berasa sama kakak sendiri *dilempar sendal rame-rame sama reader*.

Kharismanya itu loh, i love to know that her music can set me freeeee~~~~
Oke, buat di postingan ini kita fokus sama video clip terbarunya.



There's something superspecial in this song also the video clip. Kapan lagi coba Avril duet nyanyi sama suaminya? Huiiihhh, so sweet. Dan perubahan paling drastis selanjutnya dari penampilan Avril juga ada di video clip lagu ini. Avril jadi anggun banget doonnngggg. Image selengeannya ilang buat sementara. Cantik pake gaun sambil main piano. Terus suaminya, Chad Kroeger, nyanyi sambil main gitar dengan setelah jas gitu. Keren dan puas liat video clip lagu ini.

Ada satu hal yang bikin saya super bahagia denger lagu dan nonton video clip Let Me Go.

MY AVRIL IS BACK !!! Secara pribadi, saya lebih suka image Avril yang free, tapi nggak berlebihan juga. Biasa saja lah gitu. Dari warna musiknya juga. Perubahan super drastis di warna musik itu ada di album keempat, Goodbye Lullaby. Lagu-lagu di album ini cukup extremely out of pop nya Avril jadi bubblegum rock gitu. Apalagi di lagu What The Hell. Terus di album kelima juga ada sih beberapa kayak rock n roll. Tapi buat saya sih nggak masalah. Selama idola saya itu bisa mengekspresikan dirinya dengan baik, it's okay. Tapi di lagu Let Me Go, ini benar-benar back to Avril. Warna musik di lagu ini kayak di lagu-lagu Avril jaman debut. Sedikit mengingatkan sama innocence, nobody's home, dan keep holding on. Bedanya di Let Me Go ini tentu duet bareng suaminya itu, terus ditambah lagi instrumen musik yang dipakai juga lebih lembut menurutku. Dominasi piano, cello, sama biolanya suka banget. Terus teriak-teriak khas Avril di lagu galaunya juga ada (lagi).

Penasaran? Silahkan nonton disini. Mau download lagunya? Jangan kaget kalo judul lagunya jadi biar ku pergi. Itu demi kebaikan kalian, maksudnya biar kalian bisa download dan denger lagunya. Dengan harapan itu lagunya gak bakal dihapus sama servernya. Soalnya udah cukup banyak link download yang mati. So, ini dia. Downlooooaaaddddddd ^_^